KOLUSI POLITISI BUSUK DAN WARTAWAN BUSUK (Sebuah Awasan di Musim Kontestasi Pilkada)

Oleh : Silvester Joni

Kuat dugaan bahwa pilkada merupakan ‘masa panen rejeki dadakan’ bagi media dan wartawan. Praktik kolusi (simbiosis mutalisme) antara awak pers dengan politisi (kandidat bupati) kemungkinan akan diperagakan secara kreatif dan agresif.

Politisi tahu persis, selain uang, publikasi maksimum merupakan prasyarat penting memenangi kontestasi pilkada. Mereka memerlukan media untuk ‘mempromosikan aneka produk politik’ dan mengonstruksi citra diri yang positif. Para kandidat itu tentu sangat berhasrat mendapatkan semacam efek elektoral dari publikasi yang massif dan intensif tentang dirinya.

Karena itu, mereka merekrut wartawan untuk bekerja sebagai ‘tim sukses kampanyenya’. Para jurnalis itu bisa bertindak sebagai konsultan media, humas, penulis teks kampanye (pidato politik), dan ‘jurubicara’ dari sang politisi pujaan mereka. Selain itu, kita akan menjumpai fenomen media dan wartawan yang menawarkan jasa meliput atau menulis berita sesuai dengan permintaan (reporting by request). Singkatnya, idealisme (pena) jurnalis dengan mudah ‘dibeli’ oleh para petarung politik di setiap musim pilkada.

Praktik jurnalisme yang bersifat partisan dan oportunis semacam itu, tentu mencederai ‘roh idealisme pers’ sebagai penyebar dan penyingkap kebenaran kepada publik. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku ‘The Elements of Journalism (2001) menyatakan bahwa tanggung jawab pertama jurnalisme adalah menyampaikan ‘kebenaran’. Para awak media mesti loyal dan dedikatif pada pemenuhan ‘hak publik’ dalam mendapatkan informasi yang benar.

Di tangan jurnalis yang ‘moralitasnya rendah’, kebebasan pers dijadikan arena ‘menjual berita’ sesuai selera pasar (baca: interes politik dari politisi tertentu). Para politisi dengan mudah mengatur dan mendikte ‘kemasan berita’ dengan mengabaikan kode etik substansi penulisan jurnalistik. Semakin besar ‘honor’ yang diberikan oleh kandidat, tentu semakin lihai sang jurnalis memanipulasi fakta dan kebenaran dalam konten pemberitaan yang berkaitan dengan ‘kepentingan politik’ dari pedamba jabatan itu.

Tegasnya, wartawan kerap ‘tergoda’ menerima rayuan politisi untuk ‘memperdagangkan berita sesuai selera politisi’ atau berusaha ‘membujuk politisi menjadi ‘bagian inti’ dalam barisan para tim sukses. Jika kondisi ini dibiarkan, maka sebetulnya baik politisi maupun wartawan semacam itu, layak digelari sebagai ‘pribadi busuk’.

Kita berharap Pilkada Mabar tidak ‘terkontaminasi’ dengan pola kerja kolutif dari politisi dan wartawan busuk seperti itu. Publik mesti kritis dan selektif dalam ‘mencerna’ sebuah betita tentang kandidat tertentu oleh media atau jurnalis tertentu. Kita mesti menggunakan ‘pisau hermeneutika kecurigaan’ terhadap sebuah berita politik yang tendensius dan kurang objektif dari para pekerja media lokal kita.

Diterbitkan oleh Ari Bero

Mudah Bergaul Dengan Siapa Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: