OLEE NANA!!!

Pengalaman Ari Bero

Saya teringat akan suatu peristiwa pada tahun 2016. Waktu itu saya ke Labuan Bajo masih dengan tujuan mengurus nasib (melamar pekerjaan) sebagai Guru di salah satu sekolah di Ibu Kota. Usainya saya dapat jawaban yang sama seperti sebelumnya yaitu “tunggu saja”. Saya waktu itu mulai cape, keadaan “saku” yang sudah sangat kritis hampir melemahkan akal saya. Sisa uang didompetku hanya Rp 27.000 pas. Sementara saya masih di Labuan Bajo. Tanpa berpikir panjang lagi Rp 25.000 saya belikan minuman untuk si Kador Supra X kenangan dari Kota Daeng yang selalu setia bersama saya. Sisa uang setelah itu berapa?, Rp 2.000 (Jangan tanya nomor rekening). Dengan Rp 2.000 saya harus balik ke Ranggu. Dalam hati (ini darurat, saya tidak bisa lanjutkan perjalanan). Dalam situasi penuh dengan kepanikan itu saya mencoba menenangkan diri sembari menelfon saudari saya yang bekerja di Terang (arah Utara Manggarai Barat). Saya ceritakan perjalanan saya hari itu dan tidak lupa memberi bocoran tentang keadaan dompet saya pada saudari saya. Akhirnya Dia beri solusi, bahwa saya mesti lewat Terang, kebetulan Dia punya uang Rp 150.000 untuk bisa talangi kebutuhan logistik saya untuk misi berikutnya. Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung menuju Terang. Dalam perjalanan HP saya berdering, ada telfon masuk dari saudari saya tadi, katanya; “Nara, ite sebentar tidak bisa lewat dengan modal Rp 2.000, karna ada sekelompok orang sebentar di Kampung Cangkang tidak mengijinkan lewat kalau tidak bayar 5.000/10.000. Saya tidak begitu merespon hal itu, saya lanjutkan perjalanan, yang ada diotak saya adalah Rp 150.000. Singkat cerita, sampailah saya ditempat yang saudari saya ceritakan tadi. Pada jarak +- 50 meter dari tempat itu saya parkirkan si Kador Supra X. Saya ambil HP lalu foto orang-orang yang ada di situ (sambil bertanya-tanya bak seorang wartawan šŸ˜…šŸ˜…šŸ˜…). Saya foto juga keadaan di sekitar itu, termasuk jalan yang rusak parah itu. Perilaku yang tidak direncanakan itu ternyata menyelamatkan saya. Bagi orang yang pesikisnya tidak kuat, bisa pipis dicelana. Bagaimana tidak, orang-orang itu masing-masing memegang parang yang panjang. Dalam benak saya, saya tidak boleh coba melawan. Pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan pada mereka sebenarnya tidak begitu penting untuk saya, apalagi memerlukan jawaban dari mereka. Saya “oh oh” saja, saya hanya perlu bebas dari tekanan pada saat itu. Setelah melakukan perbuatan aneh itu, saya balik ke si Kador Supra X. Saya amati jalur yang akan saya lewati masih dipagari dengan bambu. Saya mencoba lewat, saya bunyikan klakson (tiiiiitt), mereka lalu membuka pagar itu dengan sangat hati-hati, saya layangkan senyum, dan senyumku dibalas. Setelah lewat dari zona rawan itu, saya bunyikan lagi klakson pertanda pamit dari mereka. Hhhhhh, Saya sudah lewat, Rp 2.000 selamat. Singkat cerita, Sampailah saya di Terang. Saya ceritakan pada keluarga di Terang tentang semua kejadian itu, mereka tertawa sampai ada yang keceplosan mengeluarkan kentut. Mereka katakan bahwa saya sangat beruntung bisa lewat tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Perjalanan hari itu selesai, dompet saya kembali terisi.

Saya Bersyukur dan Berterima Kasih Kepada Pencipta.

Catatan:

Mohon maaf apabila Pembaca kesulitan melihat korelasi antara judul dengan isi cerita ini. Karena memang tidak ada korelasinya.

[1] Ole, adalah bahasa Manggarai yang berarti “Aduh”. [2]Nana, juga bahasa Manggarai yang berarti Manusia yang berjenis kelamin laki-laki. Ole apabila dipadukan dengan Nana, dapat berarti “Aduh Nana”, sebuah ekspresi kekagetan terhadap perilaku dari Subjek Nana. Kira-kira begitu. šŸ˜ŠšŸ™.

Sedangkan Si [3]Kador, adalah julukan untuk motor Supra X yang saya kendarai pada saat itu. Kador juga merupakan bahasa Manggarai yang berarti Nakal, atau bandel. Penulis anggap cocok apabila motor lawas itu dijuluki Si Kador, berkat kinerjanya melintasi jalur rawan “Labuan Bajo – Terang” pada saat itu.

Kalau ada kesalahan mohon dimaklumi, karena tulisan ini bukan untuk menyempurnakan tata bahasa Indonesia.

Bagi para pembaca yang pernah mengalami pengalaman serupa, tentu saja ngakak setelah membaca ini. Jalan umum yang rusak di Kampung-kampung akan selalu menjadi ruang bagi preman-preman kampung untuk memeras pengendara yang hendak lewat. Penulis sudah beberapa kali mengalaminya.

Diterbitkan oleh Ari Bero

Mudah Bergaul Dengan Siapa Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: