PERLU ADANYA KESEPAHAMAN ANTARA GURU, SISWA DAN ORANGTUA SISWA

Oleh : Roy Nabal

Dalam beberapa tahun terakhir, kita (khususnya yang berkecimpung di Dunia pendidikan) dihadapkan dengan permasalahan yang -bagi saya- sangat serius dan akan sangat berpengaruh pada sebuah dinamika pendidikan yang terjadi. Salah satunya adalah kejadian di Manggarai Timur yang disebarkan oleh Manggarai Post tentang seorang kepala Sekolah yang dilaporkan ke Polisi karena diduga memukul murid yang tidak mengikuti ibadah Hari Minggu di Sekolah. Hal ini membuat saya ingin berkomentar, karena saya adalah salah seorang lulusan pendidikan keguruan.

Kita tentunya sependapat bahwa salah satu tugas penting yang diemban pundak seorang guru adalah mendidik siswa dalam hal kedisiplinan dan dalam prosesnya, mendisiplinkan seseorang tentunya sebuah pekerjaan yang sangat sulit untuk dilakukan. Selain itu, karakter dari setiap siswa yang dihadapi beragam sehingga seorang guru harus memiliki banyak siasat agar tindakan mendisiplinkan ini dapat berjalan dengan baik dan hasilnya juga baik yang ditandai dengan adanya perubahan sikap (baca: kedisiplinan) siswa yang baik.

Idealnya, seorang guru harus memiliki seribu akal dan berbagai metode untuk dapat melaksanakan tugas ini. Tapi, kita juga tidak bisa kesampingkan bahwa seorang guru juga memiliki banyak keterbatasannya sebagai seorang manusia. Seorang guru tidak dapat menerapkan secara sempurna perinsip “ideal” dalam melaksanakan tugasnya untuk mendisiplinkan siswanya.

Karena keterbatasannya (sebagai manusia) dalam melaksanakan tugas ini, seorang guru tentunya akan melakukan tugasnya dengan menggunakan prinsip yang sedikit keluar dari prinsip ideal itu. Prinsip yang keluar dari ideal ini dapat ditunjukan dengan sebuah pendekatan yang “agak keras” dalam mendisiplinkan.

Pendekatan “agak keras”, menurut saya, merupakan sebuah alternatif yang diambil oleh seorang guru karena dalam proses mendisiplinkan ini, seorang guru sudah mengalami kebuntuan dari segi akal dan metode, yang mungkin saja tidak menemukan sesuatu yang sesuai dengan katakter siswa yang dihadapinya.

Saya dan kita semua tentunya tidak dapat menerima model pendekatan “agak keras” ini karena merupakan sebuah pelanggaran yang diyakini dapat berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan seorang siswa. Tapi, jika hal ini juga tidak dilakukan, kita semua akan dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit yakni seorang siswa tetap akan tidak memiliki sikap disiplin atau kita mengaminkan pendekatan “agak keras” sehingga siswa memiliki sikap disiplin. Kedua pilihan ini, bagi saya, adalah sebuah pilihan yang sangat sulit, karena dari kedua pilihan ini, kita bertaruh sesuatu yang sama besarnya.

Kembali kepada kasus mempidanakan guru. Kejadian ini (guru vs orangtua siswa) merupakan kejadian yang tidak bisa dihindari dari dunia pendidikan pada saat ini, karena akan berada di dua kondisi yang berbeda dari dua belah pihak, yakni guru dan orang tua murid. Ini terjadi karena baik guru maupun orangtua memiliki persepsi berbeda tentang tindakan mendisiplinkan. Perbedaan ini dapat kita lihat dari peraturan-peraturan yang dilahirkan oleh pemerintah yakni PP No 74 tahun 2008 (Pasal 39 ayat 2 PP tentang Guru) dan UU perlindungan anak dan Perempuan (Pasal 16 ayat (1) tahun 2002, dan Pasal 76C tahun 2014 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak).

Tindakan mendidik (oleh guru) vs kekerasan terhadap anak (orangtua murid).

Hal ini pernah saya tulis dalam opini saya yang dimuat pada media Katakanlah.com yang bertajuk Guruku malang, guruku sayang. Tulisan yang dimuat karena keresahan yang saya tentang dunia pendidikan yang sekarang lebih dilihat sebagai arena pertarungan dua buah persepsi yang termaktub dalam dua aturan hukum.

Dalam PP Nomor 74 Tahun 2008 telah dijelaskan posisi guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam Pasal 39 ayat 1 dijelaskan bahwa guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya. Dalam ayat 2 disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.
Dalam ayat 2 Pasal 39 ini dijelaskan bentuk tindakan mendisiplinkan yang bisa dilakukan oleh guru, namun harus sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undagan.

Hal ini tentunya membingungkan dan cukup sulit untuk dipahami. Di satu sisi diperlukannya tindakan mendisiplinkan, namun tetap disesuaikan dengan kaedah pendidikan, kode etik dan sesuai peraturan.

Saya tidak terlalu tahu saat pembuatan peraturan ini, apakah mereka yang membuatnya dalah orang-orang pendidikan yang pernah berada di dunia pendidikan. Karena di lapangan akan ditemukan banyak kejadian yang membuat seorang guru perlu melanggar beberapa kaedah dan kode etik, dan bahkan peraturan perundang-undangan, karena tindakan medisiplinkan ini. Mendisiplinkan sejatinya tidak bisa dilakukan setengah-setengah untuk menghasilkan output pendidikan yang baik.

Lalu, UU Perlindungan anak yang kenyataannya sangat bertolak belakang dengan PP tentang guru, yakni diantaranya Pasal 16 (1) tahun 2002 berbunyi, “Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi”. Dan Pasal 76C tahun 2014 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak) berbunyi, “Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak”.

Pasal 16 (1) tahun 2002 dan pasal 76C tahun 2014 di atas dijelaskan bahwa anak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan setiap orang dilarang melakukan kekerasan terhadap anak. Hal ini tentunya menjadi senjata yang ampuh untuk menjerat guru atau pelaku kekerasan lainnya. Mungkin sejatinya peraturan ini akan sangat dibutuhkan untuk kekerasan yang dilakukan di luar dunia pendidikan, tetapi untuk dunia pendidikan itu sendiri, undang-undang ini menjadi salah satu permasalahan serius karena kehadirannya mempertentang peraturan tentang mendisiplinkan siswa. Karena hal ini tidak dispesifikasikan untuk kekerasan dalam dunia pendidikan.

Dilihat dari berbagai masalah yang terjadi di dunia pendidikan yang terjadi beberapa tahun terakhir, kedua belah pihak berdalil dengan dua buah aturan tersbut di atas.

Dari hal ini kita bisa melihat bahwa, ada perbedaan persepsi yang cukup besar tentang sebuah tindakan yang dilakukan (baca: kekerasan) oleh guru.

Lantas apa yang bisa dilakukan dengan kedua hal di atas (peraturan)?

Sejatinya perbedaan ini dapat diminimalisir dengan beberapa langkah yang bisa diambil.

Pertama, Pemerintah perlu memberikan ketegasan terhadap peraturan di atas. Pemerintah sejatinya memiliki peran yang sangat penting pada masalah ini. Karena peraturan-peraturan ini lahir sebagai pertimbangan pemerintah, namun, menjadi masalah yang cukup rumit ketika masyarakat, baik guru dan orangtua tidak mampu menerjemahkannya secara baik tentang peraturan tersebut.

Kejadian dalam pendidikan baik pendekatan kekerasan yang dilakukan seorang guru ataupun mempidanakan guru oleh orang tua sejatinya lahir karena perbedaan persepsi dari kedua belah pihak ini dalam mengartikan sebuah kekerasan. Dari pihak guru akan beranggapan bahwa kekerasan itu perlu karena untuk mendisiplinkan, dan dari pihak orangtua akan beranggapan bahwa kekerasan itu merupakan tindakan yang tidak manusiawi.

Kedua pandangan ini perlu disamakan untuk menghindari peristiwa yang tidak elok ini. Memang pada dasarnya sebuah tindakan tidak dapat diukur secara pasti mengenai batas-batasnya. Namun, masih bisa diakal dengan peraturan-peraturan yang dapat mengendalikan situasi. Misalnya tingkat kekerasan dan media yang digunakan perlu diatur dengan sejelas-jelasnya. Kekerasan fisik yang masih mungkin bisa dilakukan seperti apa dan kekeran non-fisik yang bisa dilakukan seperti apa.

Dengan jelasnya kedua hal ini, maka akan mengurangi perbedaan pandagan dari kedua belah pihak yang berseteru ini.

Maka dari itu, pemerintah sangat perlu dianjurkan untuk membuat batas-batas diberlakukan peraturan-peraturan tersebut. Sejauh mana tindakan pendisiplinan oleh seorang guru terhadap anak (siswa/i) dan saat mana UU tentang perlindungan anak bisa diberlakukan untuk sebauh tindakan mendisiplinkan oleh seorang guru.

Kedua, Sekolah perlu membuat sebuah peraturan berdasarkan kesepakatan bersama (Guru, Siswa, dan Orangtua).

Karena belum ada ketegasan dan kejelasan mengenai batas-batas dari peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah, saya menilai bahwa langkah ini juga sangat perlu dilakukan untuk meminimalisir terjadi kejadian tersebut di atas. Sekolah perlu menyediakan sebuah ruang diskusi yang mempertemukan pihak guru, siswa dan Orangtua siswa untuk membahas hal ini.Ruang diskusi ini akan menghasilkan beberapa kesepakatan tentang tindakan yang perlu dilakukan dan dipatuhi oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya, peraturan-peraturan yang perlu dipatuhi oleh siswa dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orangtua siswa ketika melihat sebuah proses yang terjadi di luar kesepakatan yang telah disepakati.

Dengan adanya ruang diskusi dan kesepakatan bersama ini, saya meyakini bahwa, sebuah proses pendidikan dapat berjalan dengan baik karena perbedaan pandangan antara guru, siswa dan orangtua siswa dapat dicegah.

Diterbitkan oleh Ari Bero

Mudah Bergaul Dengan Siapa Saja

One thought on “PERLU ADANYA KESEPAHAMAN ANTARA GURU, SISWA DAN ORANGTUA SISWA

  1. I һave been browsing online greatdr than three hours nowadays, but I never
    discovered any attention-grabbing articlе llike
    youгs. It is pretty valuе sufficient for me. Ιn my view, if all weƄmasters
    and ƅl᧐ggers made excellent content material as you did, the
    ԝeb shall bee a loot more helpful than ever before. https://trevorzswv372.wordpress.com/2019/06/24/menjumpai-situs-judi-bola-penipu-yang-minim-positif/

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: