SMK Negeri 1 Welak Adakan Lomba Tingkat Sekolah, Koordinator Pengawas Turut Hadir

Ketua Panitia, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah

Kurang lebih dua bulan lagi Negara Kita akan memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), tepatnya 2 Mei mendatang. Seperti biasa, Lembaga-lembaga Pendidikan mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut Hari Bersejarah itu, tak terkecuali Lembaga-lembaga Pendidikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, melalui Dinas Pendidikan sudah mengeluarkan surat edaran tentang penyambutan Hardiknas. Isi dari edaran Kepala Dinas Pendidikan tersebut, menegaskan kepada Seluruh Kepala Sekolah SMA dan SMK lingkup Provinsi NTT untuk ambil bagian dalam kegiatan Perlombaan ditingkat Provinsi.

Tahapannya, pada setiap Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) yang berada di Setiap Kabupaten mengadakan Perlombaan di tingkat Kabupaten. Selanjutnya, yang meraih juara ditingkat Kabupaten akan di kirim untuk mengikuti Lomba ditingkat Provinsi.

Menanggapi edaran Kepala Dinas tersebut, Kepala SMK Negeri 1 Welak, Siprianus Jemadi, S.Pd. mulai mempersiapkan Calon peserta Lomba melalui seleksi ditingkat Sekolah. “Kegiatan perlombaan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hardiknas. Kegiatan ini diselenggarakan juga ditingkat Sekolah dalam rangka menyeleksi Siswa yang akan dikirim untuk mengikuti perlombaan ditingkat MKKS Kabupaten”, terang Sipri.

Bidang yang dilombakan di SMK Negeri 1 Welak sesuai dengan isi surat edaran Kepala Dinas. “Bidang lomba yang diperlombaan di tingkat SMKN 1 Welak merujuk pada surat edaran kepala Dinas Pendidikan Provinsi tentang HARDIKNAS, antara lain: Paduan Suara, Lomba menyanyi Solo, Debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Karya Tulis Ilmiah, Baca Puisi, dan Gebyar SMK”.

“Peserta Lomba diambil dari setiap Rombongan Belajar Kelas X dan kelas XI melalui Wali Kelas dan kerjasama dengan Guru Mata Pelajarannya masing-masing, Kegiatan ini digelar di Halaman Sekolah, Panitia Kegiatan menyiapkan Tenda dan panggung sebagai tempat Pertunjukan”, lanjut Sipri.

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk menyeleksi calon-calon Siswa yang akan dikirim untuk mengikuti lomba ditingkat MKKS Kabupaten. Ia berharap dari perlombaan ditingkat sekolah ini, pihak Sekolah memperoleh gambaran untuk kemudian menentukan Siswa yang Unggul dan dianggap mampu untuk mengikuti Lomba ditingkat MKKS Kabupaten maupun untuk tingkat Provinsi.

“Pengalaman-pengalaman sebelumnya, kami pilih begitu saja tanpa melalui seleksi seperti yang kami lakukan hari ini sehingga kurang maksimal hasilnya. Oleh sebab itu, barangkali dengan strategi baru ini, seperti yang kami lakukan hari ini, saya berharap Siswa-siswa yang akan kami kirim nantinya memperoleh hasil yang paling tidak ya lebih baik dari sebelumnya, Syukur kalau Juara sampai di tingkat Provinsi”, kata Sipri.

Dalam kegiatan Perlombaan Hari Pertama ini, turut hadir Koordinator Pengawas untuk Kabupaten Manggarai Barat, Bapak Drs. Paulus Hansko.

“Kegiatan perlombaan di SMK Negeri 1 Welak yang dimulai hari ini sangat baik ya, karena memang ada persiapan-persiapan. Ini memang wajib dibuat ditingkat Sekolah, dan ini tujuannya untuk membina mental peserta didik, karakternya, sekaligus kita mau melihat minat dan bakatnya, karena pendidikan itu bukan semata-mata di dalam kelas saja tetapi minat dan bakat yang lainnya itu seperti apa?”, ungkap Paul.

“Dari sekian mata lomba tadi, seperti Lomba menyanyikan lagu Mars NTT dan tarian daerah itu bertujuan agar para peserta didik saling mengenal Budaya daerahnya masing-masing. Satu yang paling penting lagi adalah Lomba debat Bahasa Inggris, ini sangat erat sekali kaitannya dengan Pengembangan Pariwisata Super Premium Labuan Bajo, dimana Peserta Didik dilatih ditingkat Sekolah agar bisa berbahasa Inggris sehingga bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan industri Pariwisata.”, lanjutnya.

Dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di Sekolah Para Pengawas perlu hadir untuk mengawasi keberlangsungan kegiatan dimaksud.

“Saya selaku Koordinator Pengawas selalu memantau kegiatan-kegiatan di Sekolah terutama Kegiatan Lomba ini. Jadi tidak serta merta mengirimkan anak tanpa ada ekshibisi di tingkat Sekolah. Yang dikirim ke tingkat Kabupaten adalah mereka yang betul-betul sudah siap yang telah mengikuti tahapan-tahapan seleksi ditingkat Sekolah. Seleksi ditingkat Sekolah Ini dilakukan juga untuk menghindari penafsiran-penafsiran lain ditengah komunitas peserta didik maupun ditengah masyarakat, siapa yang juara, itulah yang dikirim.”, ungkapnya lagi.

Beliau Berharap kegiatan ini sukses dan dari kegiatan ini bisa menghasilkan para juara yang bermutu dan bisa tampil prima pada tingkat selanjutnya. Beliaupun tidak lupa memberi saran kepada Semua Guru dan Tenaga Kependidikan di SMK Negeri 1 Welak.

“Saran saya, yang pertama para Guru beri pembinaan dan bimbingan rutin kepada Anak-anak secara maksimal, dan kalau bisa ya terjadwal, misalnya sekali dalam sepekan, jangan hanya pada saat Lomba. Yang kedua, tata lembaga ini sebaik-baiknya, serapi mungkin agar peserta didik merasa betah di Lingkungan Sekolahnya.” tutupnya.

Dalam wawancara terpisah, Bapak Alfonsus Son, S. Pt selaku Ketua Panitia menyampaikan sedikit informasi mengenai Persiapan Lomba. “Berkaitan dengan Persiapan Lomba yang dimulai hari ini ditekankan kepada setiap Koordinator Mata Lomba agar bisa mendampingi peserta lomba sesuai dengan bidang-bidang lomba yang ditampilkan mulai hari ini sampai dengan Hari Jum’at tanggal 18 Maret tahun 2022. Saya sudah koordinasi dan semua Koordinator mata lomba sudah menyiapkan Peserta Lomba yang siap tampil.” tegas Alfonsus.

Untuk diketahui, SMK Negeri 1 Welak beralamat di Datak, Desa Golo Ronggot, Kec. Welak, Kabupaten Manggarai Barat. Sekolah ini mulai berdiri sejak Tahun 2005. SMK Negeri 1 Welak adalah Sekolah Kejuruan pertama di Kecamatan Welak. Sekolah ini mengelola dua Program Keahlian yaitu; Agribisnis Ternak Ruminansia (ATR) dan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH).

Menurut keterangan Kepala Sekolah, Beliau sudah mengusulkan penambahan Program Keahlian baru yaitu Usaha Perjalanan Wisata (UPW) dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), kalau usulun tersebut diterima, maka dua program baru tersebut bisa dijalankan pada Tahun Pelajaran yang akan datang.

Datak, 14 Maret 2022

Laporan : Ari Bero
Guru Matematika SMK Negeri 1 Welak

Perjalanan Kecil Part 1

(Kisah petualangan Hans Juang dan Teman; menjejaki spot wisata tersembunyi di Welak Bagian Utara)

Docpri Hans Juang

Beberapa bulan yang lalu saya dan dua orang teman yaitu Andro dan Arfan bertemu dan berdiskusi tentang sebuah rencana kecil kami untuk mengunjungi beberapa spot Wisata menarik di Kecamatan Welak, Manggarai Barat, yaitu Watu Umpu dan Cunca Polo. Rencana tersebut sudah pernah kami bicarakan sejak tahun lalu namun tak kunjung dieksekusi dan ditindaklanjuti lantaran masih bergelut dengan kesibukan masing – masing. Selain kesibukan yang ada, sebetulnya karena diawal tahun 2020 pandemi melanda dunia sehingga rencana kamipun urung dilaksanakan. Namun semua hambatan itu tidak serta merta membuat rencana kami menjadi pupus. Lalu pada minggu yang lalu kami mulai merancang kegiatan itu dengan cukup serius.
Mula-mula mencari data, diantaranya soal bagaimana menuju ke lokasi, apa yang perlu dipersiapkan, lalu siapa yang harus ditemui dan tentu saja dengan semangat dan tujuan yang sudah ada dalam benak kami.

Tibalah momentumnya di tanggal 5 Februari 2022, kami bertiga ditemani oleh salah seorang sahabat yang lain yang juga memiliki semangat yang sama, berkumpul untuk bersiap memulai perjalanan kecil kami menuju ke lokasi.

Mengawali perjalanan itu, dengan ucapan syukur dalam doa dan permohonan, memperkokoh semangat kami menjadi kian membara dan seakan tak sabar lagi ingin sampai ke tempat tujuan.

Berawal dari titik start di Kota Wisata Super Premium Labuan Bajo, kedua sepeda motor kami melaju dengan cukup kencang menikmati halus dan mulusnya jalanan beraspal yang berlabel super premium itu. Semakin jauh perjalanan itu semakin kami menikmatinya, bagaimana tidak, sepanjang perjalanan kami dari Labuan Bajo senantiasa disuguhkan dengan pesona alam yang cukup mimbius jiwa lantas membuka asa untuk menyadari soal eksistensi alam itu sendiri bagi mahluk hidup lainnya di Bumi ini.

-bersambung di Part 2-

#IstanaUlar

#watuUmpu

#CuncaPolo

#LongkaNiki

Cerita ini sudah tayang sebelumnya di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2797124687100214&id=100004081306821

BAD INFLUENCERS : ANTITESIS PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh : Fritz Haryadi

Dengan subscribers rata-rata remaja usia sekolah, Atta Halilintar menayangkan video malam pertama. Lima juta penonton dalam tempo 24 jam. Tentu tidak ada konten porno, platform melarangnya; tapi ini menambah dosis baru dalam asupan kebodohan yang sudah terlalu lama dicekokkan kepada generasi muda kita.

Atta, dan banyak youtuber dengan tipe konten serupa, berada di kotak yang sama dengan sinetron, infotainment gosip, hingga gerakan agama yang puritan radikal : mereka semua Bad Influencers, pembawa pengaruh buruk.

Istri saya yang mengajar di SMP, sudah 2 tahun ini mengajak ngobrol anak-anak didiknya yang menjadi subscriber Atta. Rata-rata mereka mengaku hanya ikut-ikutan tren, seperti bisa diduga. Yang disukai anak-anak ini dari channel Atta diantaranya konten prank, pamer mobil mahal, pamer keseharian yang bergelimang kemewahan, dan ucapan “asiyaaap” yang menjadi trademarknya. Pendeknya, Atta adalah perpanjangan dari sinetron. Ia menghadirkan bukti bahwa kebodohan fiktif bisa menjadi nyata. Dan untuk jasa itu anak-anak kita menimbunnya dengan uang.

Dalam sesi obrolan dengan anak-anak didik, istri saya mendapati bahwa mereka tidak mengerti bagaimana alurnya sehingga subscribe dan jempol mereka bisa menjadi uang buat Atta. Saat dijelaskan, merekapun mulai berpikir, mulai bisa menangkap ketidakadilan di hadapannya. Orang tuanya banting tulang untuk membelikan pulsa mereka, lalu mereka habiskan untuk menonton channel Atta; sambil tidak mendapat manfaat apa-apa selain mengikuti tren, hanya untuk bisa nyambung dengan apa yang dibicarakan teman-temannya, hanya untuk menjadi pengikut. Sambil kehilangan waktu untuk belajar.

Tiap tipe konten Atta dibahas dalam obrolan itu. Tentang prank, istri saya menjelaskan bahwa itu bentuk bullying; hal yang sedang diperangi di lingkungan sekolah di seluruh dunia. Tentang pamer kekayaan, digalinya aspirasi anak-anak didik; kalau teman pamer kekayaan, bagaimana perasaan mereka? Ternyata tidak senang. Lalu mengapa senang saat dipameri orang lain lewat layar internet?

Pamer kekayaan adalah konsep Vanity. Ini konsep yang sukar diterjemahkan dalam bahasa kita; sebab dalam budaya kita belum ada karsa untuk mengatai fenomena itu. Terjemahan yang biasa dipakai untuk vanity adalah “kefanaan”. Namun ini jauh dari akurat. Yang paling dekat adalah “pamer kekayaan”, tapi inipun baru sebagian.
Kata dasar dari Vanity adalah “vain”, artinya kosong, hampa, sia-sia. Maka vanity adalah sikap kesia-siaan, kekosongan, sikap mementingkan kulit tanpa peduli isi. Pencitraan adalah tindakannya, vanity adalah sifatnya.
Ironis, ini karakter paling mendasar dari bangsa kita, namun kita tidak punya nama untuknya.

Sesi obrolan itu diakhiri dengan langkah konkret, yang saya dukung lahir-batin. Ia minta anak-anaknya unsubscribe channel Atta. Kalau bisa jangan tonton lagi. Kalau masih terasa berat, tonton saja, tapi jangan subscribe. Habis nonton, jangan lupa unlike. Jempol turun.
Atta boleh kaya dari mana saja, tapi jangan dari anak-anak kita.

Istri saya, seorang wali kelas dan guru Bahasa Inggris, mengajak anak didiknya menyelami nalar mereka sendiri, perasaan mereka sendiri; merangsang kepekaan sosial, lalu membimbing mereka mengambil tindakan nyata.

Ini solusi. Inilah pendidikan karakter. Guru-guru se-Indonesia perlu mengambil langkah remedial yang dicontohkan di atas.
Ini langkah awal. Masih panjang daftar influencer di platform vlog yang setipe dengan Atta, yang harus menjadi target selanjutnya. Mereka adalah antitesis Pendidikan Karakter. Penghambat, penggagal, hama; bagi Pendidikan Karakter.

Hukum tidak bisa melarang orang menjual kebodohan. Caveat emptor : Salah beli, salah sendiri.

Satu-satunya yang mampu memberantas hama ini, hanya sekolah.

Media Sosial dan Etos Berpolemik

Oleh : Silvester Joni

Dokpri

Tak ada pretensi untuk menjadikan tulisan ini sebagai referensi dalam membaca polemik di media sosial. Apa yang tersaji di sini, hanya sekadar sebuah perspektif yang terbatas tentang bagaimana seharusnya kita berdebat di facebook. Tilikan ini sangat terbuka untuk digunting oleh siapa saja dari dari latar belakang ilmu apa saja.

Media sosial dalam pelbagai kanal merupakan jagat tak berhingga dan tak bertuan. Siapa saja boleh ‘nimbrung’ dalam ruang itu untuk mempercakapkan isu apa saja. Tidak heran jika kita menemukan tulisan dari seorang remaja bersanding dengan artikel opini seorang profesor. Mereka yang mungkin baru belajar menulis akan dengan bebas menanggapi tulisan seorang profesor.

Garis demarkasi antara analisis seorang ‘pakar’ dengan anak sekolah menengah relatif kabur sebab semuanya ‘melayang’ secara sejajar dalam forum itu. Mengapa? Facebook bukan ‘domain eksklusif’ para ilmuwan dan akademisi untuk mempresentasikan kajian saintifik mereka. Kita jarang membaca sebuah telaah akademik dalam bidang hukum misalnya, yang mengikuti logika dan metodologi ilmiah yang ketat. Yang disodorkan dalam ruang itu adalah ‘fragmen opini lepas’ yang tentu saja sangat terbuka untuk diperdebatkan. Teori dan konsepsi ilmu tertentu dicomot secara eklektik untuk sekadar terlihat gagah.

Kendati demikian, perdebatan dalam ranah digital akan jauh lebih elegan dan berwibawa ketika kita tidak menegasikan semacam etika diskursus yang baik. Tidak salah juga jika kita menyadap ‘nafas keilmiahan’ dalam perbincangan tersebut. Dunia pemikiran akan berkembang jika dan hanya jika kita tidak terjebak dalam absolutisme atau dogmatisme yang akut. Mentalitas ilmiah sebetulnya ‘pemali’ untuk mengkultuskan pemikiran sendiri. Kita menyajikan pemikiran yang bersifat diskursif, bukan kumpulan dogma yang mesti diterima oleh siapa saja.

Perspektif seseorang entah diadaptasi dari doktrin keilmuan tertentu, tentu bersifat terbatas. Klaim bahwa ‘tafsiran kita lebih baik dari orang lain’ tentu saja bisa dibaca sebagai ekspresi arogansi intelektual.

Karena itu, dalam membangun perdebatan di ruang publik, kita perlu ‘menghargai perpektif’ partner debat. Bagaimanapun juga, persepsi individual itu mesti dikonfrontir dengan gagasan orang lain. Kebenaran yang kita sajikan tidak bersifat absolut, tetapi bersifat dialogis dan terbuka untuk diperdebatkan. Berdebat tentang Perkara Hasil Pemilihan dalam kontestasi Pilkada Mabar pada forum Mahkamah Konstitusi (MK) misalnya, kita tidak bisa ‘memaksa tafsiran keilmuan kita’ untuk dijadikan panduan dalam memastikan siapa penang dalam sengketa itu. Apalagi jika penafsiran kita lebih banyak dipengarui oleh ‘posisi politik’ dan selera preferensi individual, tentu kita tak punya basis yang cukup kuat untuk memonopoli kebenaran.

Selain itu, dalam bertengkar di media, semestinya kita tetap mengedapankan ‘rasionalitas’ yang jernih. Argumentasi yang dibangun mesti bisa dipertanggungjawabkan di hadapan nalar. Unsur emosi (perasaan) sedapat mungkin disisihkan.

Media massa dan media sosial (Medsos) dalam perspektif kajian sosial dan budaya merupakan salah satu instrumen public-space, ruang terselenggaranya aktivitas diskursif; pendekatan penalaran yang produktif dan berkualitas.

Isu-isu krusial yang bersentuhan langsung dengan ‘dimensi kebaikan publik’, diperbincangkan secara elegan dan rasional tanpa adanya represi, restriksi, intimidasi, dan manipulasi dari pribadi atau kelompok otoritatif tertentu yang berusaha menguasai ruang publik.

Secara ideal, ruang publik adalah arena diskursif, tempat di mana publik mempertimbangkan dan memperdebatkan berbagai kebijakan yang didesain dan dieksekusi oleh pemerintah. Oleh sebab itu, media sosial sebagai satu model ruang publik kontemporer itu bisa menjadi ‘penghubung antara ruang privat (keluarga) dan ruang otoritas publik (pemerintahan). Ruang itu menjadi medan ‘perumusan dan pengontruksian opini publik’ yang bisa mempengaruhi proses pengambilan dan pelaksanaan kebijakan politik.

Sebagai forum diskursus, maka dalam ruang itu, kita akan berhadapan dengan ‘pluralitas gagasan’. Setiap individu mempunyai posisi yang egaliter dalam mengungkapkan opini yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Perbedaan konsep, ide, minat, dan gaya berkomunikasi, menjadi panorama yang dominan ketika kita ‘berpartisipasi’ dalam sebuah forum diskusi di media sosial. Benturan pendapat itu kerap bersifat radikal dan ‘menghebohkan’ dan tentu saja menstimulasi sebuah ‘polemik’ berseri di berbagai platform media sosial seperti facebook, WhatsApp (WA), instagram, dan lain-lain.

Sebuah pertengkaran (polemik) dinilai bermutu jika masing-masing partisipan diskursus ‘memaksimalkan’ aspek rasionalitas dalam ‘mengupas’ isu tertentu. Sedapat mungkin, kita berdebat tentang ‘substansi opini’ dari rekan diskusi dan bukan terjebak pada arus sentimentalitas dan emosional yang cenderung ‘mengaburkan isi perdebatan’.

Dengan formulasi yang lebih simpel, kita mesti ‘berpolemik’ dengan otak, bukan dengan insting animalitas. Hindari argumentasi yang bersifat ‘menyerang karakter pribadi’ (argumentum ad personam) dan argumentasi yang mengkredit otoritas tertentu (argumentum ad autoritatem). Mengobok-obok wilayah privasi dan profesi orang, selain tidak etis dan produktif, juga mencerminkan kekerdilan berpikir dan kedangkalan referensi otak.

Umumnya ketika kapasitas kognitif seseorang tak sanggup meladeni substansi argumen orang, maka kita tergoda orang yang beragumen dan profesinya. Ini namanya sesat pikir jenis ad-hominem. Ini jurus andalan dari para politisi busuk atau provokator atau agitator massa. Menyerang argumen memang lebih beresiko, karena argumen bisa dibuktikan salah dan benar. Kalau benar, maka kita akan terbukti cerdas. Kalau salah, maka kita akan terbukti bodoh. Nah, peluang untuk terbukti bodoh itu sama besarnya dengan terbukti cerdas, serta akan semakin besar kalau kita tahu bahwa kita memang bodoh. Tak semua orang mau terbukti sebagai orang bodoh sehingga harus belajar lagi dengan sungguh-sungguh. Maka, sesat pikir ad-hominem pun menjadi solusi ilusifnya agar seolah terlihat cerdas.

Perdebatan yang ‘belopotan’ dengan unsur emosi, amarah, dan dengki, di satu sisi, dianggap sebagai ‘bumbu penyedap’ pertengkaran intelektual, tetapi ‘menghilangkan’ esensi debat pada sisi yang lain.

Saya menangkap kesan, polemik yang bergulir di grup facebook “Jurnal Mabar” seputar analisis prediktif sengketa hukum di MK, cenderung mengeksploitasi sisi emosional, ketimbang rasionalitas. Efeknya adalah publik pembaca ‘tidak menangkap substansi polemik’ seputar signifikansi dan urgensitas revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam panggung sosial-politik yang majemuk. Kita lebih condong ‘memamerkan tafsiran atau persepsi individual’ untuk dikonsumsi oleh publik pembaca, sementara pada sisi yang lain kita cenderung alergi dengan kritik.

Saya berpikir, sebagai warga komunitas ilmiah, kita coba memperlihatkan tradisi dialektika yang berbobot di ruang ini. Kita mesti fokus pada gagasan yang berpijak pada penalaran yang logis dan tidak melompat ke isu yang bersifat emosional-personal.

Berpolemiklah dengan akal sehat. Dengan itu, kita tetap menghargai ‘idealisme’ pembentukan grup ini sebagai wadah latihan menuangkan gagasan secara kreatif dan forum pertukaran ide yang berkualitas.

Tulisan ini diambil Dari Sini

KPU Mabar Melanggar Kode Etik?

Sreenshoot Postingan KPU Mabar di Facebook

Apakah Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Manggarai Barat melanggar kode Etik?.

Untuk menjawab hal itu, mari kita menunggu jawaban dari Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) setelah pengaduan dari salah seorang warga Manggarai Barat mendapat jawaban.

Berikut ini salah satu draf pengaduan salah seorang warga Manggarai Barat yang tidak ingin disebutkan namanya yang ditujukan kepada Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Pengaduan ini menurutnya akan disampaikan via email Pengaduan DKPP.

***

Selamat Pagi Bpk/Ibu Admin Kanal Pengaduan DKPP.

Salam Hormat,
Sebelumnya saya ingin perkenalkan diri saya,

Nama : (disembunyikan)

Jenis Kelamin : (Disembunyikan)

Pekerjaan : Wiraswasta.

Alamat : (Disembunyikan)

HP/WA : (+62***********)

Dengan ini saya mau mengadu kepada DKPP terkait berita yang dirilis oleh Humas Media Center KPU Kabupaten Manggarai Barat pada Rabu, 3/2/2021. Dimana pada bagian publikasi ini pengadu menduga adanya pelanggaran kode Etik karena perkara masih berada di meja persidangan dan belum ada Keputusan Tetap dari Majelis Hakim Konstitusi.
Pengadu menilai bahwasanya Humas Media Center KPU Kabupaten Manggarai Barat telah melakukan sesuatu yang bukan kapasitasnya dan belum waktunya.

Untuk memperkuat pengaduan ini, pengadu melampirkan tangkapan layar postingan KPU Manggarai Barat di Facebook dan juga link berita pada website resmi KPU Kabupaten Manggarai Barat ( Baca DI SINI )
Pengadu juga mengutip beberapa Protes Masyarakat Manggarai Barat di Facebook, yaitu sbb:

Pertama,

Oleh : Johanes Jemarut
( Postingan Facebook : DI SINI )

KPU(D) ITU LEMBAGA APA?
(Menyoal Bahasa dan pemanfaatan Media)

Saya tersentak membaca ini. Sungguh! Kok ada publikasi receh seperti ini di web resmi? Ada beberapa “pelacuran” yang terendus dari publikasi media KPUD Mabar ini, al:

  1. Prematur

Yang kami tahu bahwa sidang sengketa pilkada Mabar itu sedang berlangsung, belum ada keputusan tetap dan mengikat dari MK tentang sengketa tersebut. Pernyataan “tanpa alat bukti” bertentangan dengan fakta bahwa gugatan paket MISI masih diterima oleh MK. Berikut, frasa “Tanpa Alat Bukti” adalah pelecehan terhadap hukum dan penggiat hukum. Kenapa tidak memakai istilah “minim Alat bukti? “. Ada semacam tendensi pelecehan terhadap pihak pengacara paket MISI. Seolah-olah pengacara itu ” Bodoh dan dungu” Dalam berperkara.

  1. Melampaui Wewenang

Wewenang untuk mengatakan “tanpa alat bukti” Adalah milik Mahkamah Konstitusi sebagai pemeriksa kelengkapan, bukan milik KPUD. KPUD cukup menyediakan counter attact atas bukti pemohon. Cukup.

  1. Membuka Aib Sendiri

Media suatu instansi itu cukup mempublikasikan dirinya sendiri, apalagi instansi milik publik tanpa membawa-bawa pihak lain. Dalam berita ini, KPUD terkesan ceroboh dengan mengatakan bahwa tuduhan paket MISI terhadap pihak terkait (Edi-Weng) tidak ada alat bukti. Yang dilaporkan dalam sengketa ini adalah KPUD Mabar, EDI-WENG hanya pihak terkait. Tak etis KPUD menyebut nama mereka dalam kasus ini. Hal ini akan menimbulkan bias di masyarakat.

  1. Penggunaan Media Publikasi Yang Kurang Profesional.

Media KPUD cukup terbatas pada publikasi hal-hal yang berkaitan dengan kinerja, jadwal, aturan main dan keputusan-keputusan berharga. Kalau mau beropini ria ya, manfaatkan teman-teman Wartawan atau menulis di halaman Facebook KPUD Mabar saja, jangan di web resmi.

Bagiku begitu.
Karena itu, dengan sangat hormat kami mohon untuk menarik kembali publikasi yang tidak penting ini. Dengan begitu kami percaya bahwa kita semua memiliki niat baik dalam mengelola negara ini.
Salam hormat.
Tulis Johanes Jemarut di Facebook.

Kedua,

Oleh : Piter Ruman
( Postingan Facebook : DI SINI )

MEDIA CENTER KPUD MABAR ITU MILIK KONTESTAN KAH? ATAU KONTESTAN JUGA?

Tentu ulasan yang tendensius dalam berita di Media Center KPUD ini sudah kita dengar bersama sama dlm proses sidang virtual. Yang namanya termohon berhak menyampaikan sanggahan atas gugatan. Menjadi soal jika sebuah perangkat lembaga publik dlm hal ini Media Center membangun opini publik dan terjebak menjadi partisan dalam sebuah perkara. Yang digugat itu bukan KPUD sebagai sebuah lembaga…tetapi atas adanya sebuah keputusan/ketetapan yang dilakukan oleh komisionernya. Lembaga KPUD itu bukan milik komisioner atau orang-orang yang sekarang bekerja disana…tapi itu milik rakyat, yang oleh karenanya dia tidak boleh digunakan sebagai alat untuk membangun opini YANG TIDAK BERIMBANG. Atau memang ini sebagai pertanda bahwa KPUD tidak berimbang?…Media Center itu lebih berfungsi sebagai media edukasi dan informasi terkait kegiatan pemilu yang wajib disampaikan ke masyarakat. Bukan sebagai media untuk membangun persepsi publik terkait sebuah perkara yang sedang terjadi.
Ini sebuah pelanggaran code of conduct…. dan dengan ini saya menjadi lebih paham……ohhhh ternyata…..

Tulis Piter Ruman di Facebook.

Demikian untuk maklum, dan mohon untuk diperhatikan.
Terima Kasih, salam Hormat.

***

Demikian draf pengaduan yang dibuat oleh salah warga Manggarai Barat yang rencananya akan dikirim pada tanggal 8 Februari 2021 Via Email.

Ketika ditanya, apakah tidak cacat prosedur dalam hal menyampaikan pengaduan tersebut, warga tersebut menjawab dengan singkat; “Itu tergantung pihak DKPP”, jawabnya sambil lalu.

Screenshoot Halaman Opini Website Resmi KPUD Mabar

Untuk diketahui, KPU Kabupaten Manggarai Barat pada tanggal 3/2/2021 membagikan link opini pada halaman Facebooknya yang kemudian dianggap melanggar oleh sebagian pihak.

Begini Cara Klaim Token Kompensasi Dari PLN

Pemerintah Melalui BUMN, Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah memberikan bantuan berupa kompensasi token Listrik kepada pelanggan PLN bersubsidi, yaitu meteran berkekuatan 450 VA dan 900 VA.

Namun sebagian besar pelanggan tidak mengetahui, atau tidak begitu paham bagaimana mengambil token kompensasi tersebut.

Berikut tahap-tahap pengambilan token kompensasi tersebut.

Pertama, buka link milik PLN yaitu (www.pln.co.id), setelah itu akan tampil jendela seperti gambar berikut.

Tangkapan layar screnshut web PLN.

Kedua, masukan nomor ID Pelanggan atau nomor meter Pelanggan.

Setelah memasukkan nomor meter Pelanggan, maka akan muncul jendela seperti pada gambar berikut.

Model tampilan apabila memenuhi kriteria.
Yaitu, meteran 450 VA dan 900 VA.

Namun, ada beberapa pelanggan yang tidak berhasil mengambil token kompensasi tersebut.

Apabila kita telah memasukan nomor meteran, ada pemberitahuan lain dari jendela tersebut, dan kemungkinan pelanggan bersangkutan tidak memenuhi kriteria penerima kompensasi tersebut.

Berikut model tampilan pada layar pelanggan PLN yang tidak memenuhi kriteria.

Model tampilan untuk pelanggan yang tidak memenuhi kriteria

Demikian tips untuk mengambil token kompensasi dari PLN.

Terima kasih, semoga membantu.

Rindu Menyulam Senyum


Puisi: Agust G Thuru

Rindu menyulam senyum denganmu
Di setiap tikungan perjalanan
Saat berpapasan kau melambaikan tangan
Sambil berujar salam kemanusiaan
Dan angin menghembuskan bulir-bulir damai
Kita pun terikat erat menjadi satu napas

Di setiap tapak jalan ziarah
Ada tulisan ragam bahasa
Mungkin tidak saling memahami
Tapi senyum dan tatapan mata yang teduh
Adalah bahasa cinta
Yang tidak sulit untuk difahami

Rindu menyulam persaudaraan denganmu
Di setiap ayunan langkah pesiarahan
Saat berpapasan aku melantun salam damai
Dan engkau menyambut dengan rasamu
Kita semakin diikat tali cinta
Di satu negeri milik kita bersama

Rindu menyulam salam persaudaraan
Walaupun kita tetap tak sama
Saat kita punya waktu berpapasan
Biar ada cinta yang terus mengalir
Berbagi rahmat dan belaskasih
Agar persaudaraan kita menjadi kekal

Yah, aku rindu menyulam persaudaraan
Di atas tanah warisan leluhur
Tanah air kita bersama
Sebab darah ibu dari liang rahimnya
Senantiasa mengalir dan menyuburkan
Dan seharusnya kita tidak mengkhianatinya

Denpasar , 28 Februari 2020

Jejak Digital Itu Ganas!


Segala sesuatu yang kita share di Media sosial, mulai dari Facebook, Tweeter, Instagram, Youtube, dlsb. sudah barang tentu menjadi milik publik. Mulai dari konten gambar, vidio, atau tulisan yang kita upload di media sosial otomatis menjadi milik pengguna media sosial.

Anda mungkin hendak mengedit beberapa konten yang dinilai menyinggung orang lain setelah terlanjur orang lihat dan baca. Tetapi bisa saja orang sudah terlanjur tersinggung setelah membaca konten yang anda muat. Itu masalah bagi Anda, Anda segera mengoreksinya namun fitur-fitur digital masih lebih hebat dari lelocon Anda. Mau dihapus foto atau vidio,mau diedit tulisan yg sdh kita upload di Medsos FB,jejak digital sulit kita bantah keakuratannya,dan sulit mngambilnya kmbali.Bagaimana tdk?.Upload foto, org langsung lihat,unduh kalau mau. Upload vidio,org langsung nonton,unduh juga kalau mau. Bgitu jga halnya dgn tulisan (status atau komentar di FB),dgn manfaatkan bebrpa tombol saja,hasil tangkapan layar scrensut status dan kmntar kita langsung tersimpan di Galeri perangkat lunak ponsel pngguna FB. Kita hanya bisa mlarang jejak2 digital itu bkrja dgn manfaatkan bebrpa fitur setingan prifasi yg sdh disediakan,yg kita klola sndiri diakun kita. Misalnya; ada opsi “siapa saja yg boleh mlihat materi yg kita upload”,dan masih banyak opsi lainnya. Kita bisa klola akun kita dgn rapi. Jgn lupa jadikan akun kita sbg rumah yg nyaman, dan jadikan objek wisata yg menyenangkan utk dikunjungi (asyeekk). Baik, kembali lagi ke jadul, eh judul; “Revolusi Digital yg Semakin Ganas”, sganas inikah Revolusi Digital?. Apa itu Revolusi Digital?,Komodo kah?,ganasnya seperti komodo sih,mencincang rusa sampai habis dagingnya. Bgitupun Revolusi Digital yg mlahirkan anak bernama Jejak Digital,banyak org mnjadi korban keganasannya, sampai orang menumbangkan akun FBnya (atau “rumah”nya sendiri, sya istilahkan tdi). Mnurut wikipedia;Revolusi Digital adalah prubahn dri tknologi mekanik dan
elektronik analog ke teknologi digital yang telah terjadi sejak tahun 1980 dan berlanjut sampai hari ini. Revolusi digital ini telah mengubah cara pandang seseorang dlm menjalani khidupn yg sangat canggih saat ini. Sbuah teknologi yg membuat prubahn besar kpd sluruh dunia,dari mulai membantu mempermudah segala urusan sampai membuat masalah krna tdk bisa mnggunakn fasilitas digital yang semakin canggih ini dengan baik dan benar.
Ngomong2,sbenarnya masih ada cara utk mnghilangkn Jejak Digital, tapi ini susah dilakukan,dan sangatlah radikal. Misalnya:(1)suruh pendiri FB untuk hapus FB;(2)Suruh pabrik ponsel utk stop produksi ponsel pintar;(3)suruh pngguna ponsel pintar utk bikin hancur Ponselnya;(4)suruh para ahli IT utk stop brpikir; dan terakhir skaligus sbgai pnutup tulisan ini, dan tampaknya dpt mnyelesaikn masalah:
(5)Suruh diri sendiri utk bermediasosiallah dgn baik,benar,dan pintar.

GawasNai.

KOLUSI POLITISI BUSUK DAN WARTAWAN BUSUK (Sebuah Awasan di Musim Kontestasi Pilkada)

Oleh : Silvester Joni

Kuat dugaan bahwa pilkada merupakan ‘masa panen rejeki dadakan’ bagi media dan wartawan. Praktik kolusi (simbiosis mutalisme) antara awak pers dengan politisi (kandidat bupati) kemungkinan akan diperagakan secara kreatif dan agresif.

Politisi tahu persis, selain uang, publikasi maksimum merupakan prasyarat penting memenangi kontestasi pilkada. Mereka memerlukan media untuk ‘mempromosikan aneka produk politik’ dan mengonstruksi citra diri yang positif. Para kandidat itu tentu sangat berhasrat mendapatkan semacam efek elektoral dari publikasi yang massif dan intensif tentang dirinya.

Karena itu, mereka merekrut wartawan untuk bekerja sebagai ‘tim sukses kampanyenya’. Para jurnalis itu bisa bertindak sebagai konsultan media, humas, penulis teks kampanye (pidato politik), dan ‘jurubicara’ dari sang politisi pujaan mereka. Selain itu, kita akan menjumpai fenomen media dan wartawan yang menawarkan jasa meliput atau menulis berita sesuai dengan permintaan (reporting by request). Singkatnya, idealisme (pena) jurnalis dengan mudah ‘dibeli’ oleh para petarung politik di setiap musim pilkada.

Praktik jurnalisme yang bersifat partisan dan oportunis semacam itu, tentu mencederai ‘roh idealisme pers’ sebagai penyebar dan penyingkap kebenaran kepada publik. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku ‘The Elements of Journalism (2001) menyatakan bahwa tanggung jawab pertama jurnalisme adalah menyampaikan ‘kebenaran’. Para awak media mesti loyal dan dedikatif pada pemenuhan ‘hak publik’ dalam mendapatkan informasi yang benar.

Di tangan jurnalis yang ‘moralitasnya rendah’, kebebasan pers dijadikan arena ‘menjual berita’ sesuai selera pasar (baca: interes politik dari politisi tertentu). Para politisi dengan mudah mengatur dan mendikte ‘kemasan berita’ dengan mengabaikan kode etik substansi penulisan jurnalistik. Semakin besar ‘honor’ yang diberikan oleh kandidat, tentu semakin lihai sang jurnalis memanipulasi fakta dan kebenaran dalam konten pemberitaan yang berkaitan dengan ‘kepentingan politik’ dari pedamba jabatan itu.

Tegasnya, wartawan kerap ‘tergoda’ menerima rayuan politisi untuk ‘memperdagangkan berita sesuai selera politisi’ atau berusaha ‘membujuk politisi menjadi ‘bagian inti’ dalam barisan para tim sukses. Jika kondisi ini dibiarkan, maka sebetulnya baik politisi maupun wartawan semacam itu, layak digelari sebagai ‘pribadi busuk’.

Kita berharap Pilkada Mabar tidak ‘terkontaminasi’ dengan pola kerja kolutif dari politisi dan wartawan busuk seperti itu. Publik mesti kritis dan selektif dalam ‘mencerna’ sebuah betita tentang kandidat tertentu oleh media atau jurnalis tertentu. Kita mesti menggunakan ‘pisau hermeneutika kecurigaan’ terhadap sebuah berita politik yang tendensius dan kurang objektif dari para pekerja media lokal kita.

IKAREMORA : Kawula Muda Harapan

IKAREMORA merupakan singkatan dari Ikatan Reba Molah Ranggu. IKAREMORA adalah sebuah paguyuban, wadah bagi muda-mudi di Kampung Ranggu untuk dapat berkontribusi bagi Desa Ranggu dengan menceburkan diri ke dalam berbagai persoalan yang terjadi di desa. Di mana kawula muda ini menjadi agent of solution bagi segala persoalan yang terjadi di Desa Ranggu.

Beberapa waktu lalu, Selasa (31/12/2019) dalam momentum Natal dan Tahun Baru, IKAREMORA melaksanakan kegiatan Natal dan Tahun Baru Bersama dengan tema “Kebersamaan dalam Persaudaraan”. Tema ini sejatinya ingin menegaskan bahwa paguyuban ini merupakan sebuah paguyuban yang terbentuk atas sebuah ikatan persaudaraan. Yang diyakini bahwa dengan rasa persaudaraan yang dibangun bersama-sama di antara kaum muda-mudi akan menghasilkan sebuah kekuatan untuk membawa perubahan.

Berbagai rentetan kegitan yang dilaksanakan oleh paguyuban ini dalam kegiatan Natal dan Tahun Baru Bersama itu antara lain kegiatan sosial berupa kegiatan bersih lingkungan. Pesan dan harapan yang dibawa oleh kaum muda melalui kegiatan bersih lingkungan ini bagi masyarakat adalah betapa pentingnya saat ini, terutama di musim hujan kebersihan lingkungan. Lingkungan yang bersih saat musim hujan akan meminimalkan dampak buruk bagi kesehatan.

Selain kegiatan bakti sosial, kegiatan lain yang dilaksanakan oleh Paguyuban ini adalah kegiatan pentas seni yang dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengikat dan memperkuat ikatan persaudaraan antar anggota masyarakat Dusun Ranggu.

Dalam momentum tersebut, hadir juga Kepala Desa Ranggu, Bapak Yohanes Bundar yang berkesampatan menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, Bapak Yohanes Bundar menyampaikan dukungan dan kebanggaan akan terlaksananya kegiatan tersebut. “saya merasa bangga dan mendukung anak muda-mudi ini yang telah melaksanakan kegiatan ini dengan sukses. Ini menunjukan bahwa kaum muda memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menciptakan dan melaksanakan sebuah kegiatan untuk kepentingan pembangunan Desa”.

Kepala Desa mengakhiri sambutannya juga menyematkan kepada kaum muda-mudi ini harapan akan tetap adanya ikatan muda-mudi ini serta mampu melahirkan berbagai gebrakan-gebrakan baru dalam bentuk kegiatan-kegiatan lanjutan. “Semoga wadah ini tetap ada setiap saat untuk membantu pemerintah Desa melaksanakan segala visi misi. Banyak kegiatan-kegiatan ke depan yang saya harapkan partisipasi dari kaum muda-mudi ini. Serta semoga ada kegiatan-kegitan lain yang dilaksanakan oleh kalian muda-mudi agar Desa kita ini mengalami perubahan dan perkembangan. Saya sangat berharap akan hal itu”.

Hal serupa juga disampaikan oleh ketua panitia penyelenggara acara Natal dan Tahun Baru Bersama IKAREMORA, Ari Bero dalam sambutannya menyampaikan bahwa kaum muda-mudi memiliki power untuk membawa perubahan bagi Desa. “Kita kaum muda-mudi memiliki power dalam rangka membawa perubahan bagi Desa. Untuk itu, semoga hal itu bisa kita dalami dan kita tuangkan dalam aksi-aksi nyata kita kedepan”.

Menutup sambutannya, Ari Bero menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh masyarakat Desa Ranggu umumnya dan masyarakat kampung Ranggu khususnya atas segala dukungan yang diberikan kepada IKAREMORA. “Kegiatan ini tentunya tidak akan terlaksana tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini sekaligus menutup sambutan, saya menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya bagi seluruh lapisan masyarakat, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah mendukung dan membantu kami menyukseskan segala kegiatan kami kawula muda”, tutup Ari Bero. (RN)

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai