Sebuah Tinjauan Filosofis: Konsep Pendidikan Anak dalam Keluarga

Oleh : Evridus Mangung

(Guru SMK Negeri 1 Welak)

Evridus Mangung

Ketika berbicara soal penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak, pikiran saya selalu menghubungkannya dengan sebuah audigium tua. “Keluarga adalah tempat persemaian pertama dan utama”. Petuah tua ini tidak usang dimakan waktu. Selalu menggema dari zaman ke zaman.
Mengapa pada zaman yang sedemikian maju ini perlu mengangkat kembali tema penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak? Tema ini terlahir dari adanya konsep pendidikan di dalam keluarga yang seharusnya telah diberikan oleh orang tua tetapi pada tataran praksisnya belum optimal/belum sepenuhnya dipraktekkan.
M. Syahran Jailani dalam ebooknya yang berjudul: “Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Pendidikan Anak Usia Dini”, mendeteksi faktor penyebab kegagalan pendidikan dalam keluarga.
Pertama, kurangnya pengetahuan, pemahaman para orang tua tentang kedudukan, peran dan fungsi serta tanggung jawab para orang tua dalam hal pendidikan anak-anak di rumah. Kekurangan pengetahuan dan pemahaman orang tua terdeteksi pada ketidakmampuannya dalam menyelesaikan pendidikan anak-anak. Hal ini bisa kita lihat dari masih banyaknya anak-anak putus sekolah. Meningkatnya angka pengangguran yang tidak terdidik.
Kedua, lemahnya peran sosial budaya masyarakat dalam membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan keluarga. Keluarga sering mengabaikan nilai-nilai edukasi di dalam lingkup rumah tangga.
Membiarkan anak-anak bermain dan bergaul tanpa kontrol yang memadai. Kurangnya perhatian tatkala ia sedang berkomunikasi dengan sesamanya. Sikap apatis sebagian besar para orang tua terhadap tata krama kehidupan pergaulan anak-anak di lingkungan bermainnya.
Ketiga, kuatnya desakan dan tarikan pergulatan ekonomi para orang tua dalam memenuhi tuntutan dan kebutuhan keluarga. Keterdesakan ekonomi menyebabkan orang tua meninggalkan anak-anaknya tanpa perhatian, bimbingan dan pendidikan. Yang lebih sadis lagi dengan alasan keterdesakan ekonomi, orang tua telah menjadikan anak-anak sebagai alat komersialisasi untuk mendapatkan penghasilan dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Keempat, kemajuan arus teknologi informasi yang mengglobal turut pula mempengaruhi cara berpikir dan bertindak orang tua. Perilaku instant dengan memberi fasilitas media yang tidak mendidik, membiarkan mengakses berbagai informasi yang tidak mendidik melalui tayangan media televisi dan pengawasan yang tidak terkontrol akibat ketidakpedulian para orang tua.
Menyikapi persoalan penyebab belum optimalnya praktek pendidikan keluarga di atas, saya coba berbincang dengan orang tua saya tentang apa persisnya peranan keluarga dalam pendidikan anak. Mengapa mesti orang tua yang harus diwawancarai pertama?
Persepsi orang tua dan pendidikan sangat vital sebab segala sikap dan tindakan dibangun di atas persepsi. Jika orang tua mempersepsi negatif terhadap anak dan pendidikannya, sikap dan perbuatan si anak juga akan negatif. Sebaliknya, jika orang tua mempersepsi positif terhadap anak dan pendidikannya, dia akan bertindak positif pula. Oleh sebab itu, orang tua yang bijaksana akan senantiasa meningkatkan persepsi positifnya terhadap anak dan pendidikannya dengan cara meningkatkan pemahamannya terhadap konsepsi anak dan pendidikan secara benar (Sumber).
Kembali ke soal wawancara tadi. Bagi ayah saya yang bekerja sebagai petani memahami konsep penguatan keluarga dalam pendidikan anak sama halnya dengan memahami konsep persemaian. Konsep persemaian baginya berarti menyiapkan bibit yang berkualitas dan memadai sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan, tata waktunya tepat dan bibitnya dapat beradaptasi dengan tapak atau kondisi setempat.
Konsep ayah di atas ternyata memiliki korelasi dengan pemikiran Comenius. Comenius (1592 — 1670) seorang filsuf pendidikan berpendapat bahwa proses pendidikan tidak dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan dilakukan secara terencana dan bertahap sesuai dengan tahapan perkembangan fisik dan psikis peserta didik (sumber).
Dalam kerangka pikiran Comenius dan ayah saya tadi, saya coba mendalami pendidikan keluarga dari titik tinjau persemaian benih. Keluarga sebagai persemaian merupakan tempat sekaligus tahap awal dari setiap proses penyelenggaraan kegiatan pendidikan anak. Oleh karena itu, keluarga sebagai tempat dan tahap awal suatu pendidikan perlu memikirkan beberapa pertimbangan yang perlu digunakan dalam merencanakan kegiatan persemaian.
Pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan orang tua selaku subjek utama pemerhati pendidikan anak adalah menetapkan model/ jenis persemaian yang diterapkan, lokasi persemaian, kebutuhan akan alat dan bahan yang diperlukan, tata kelola waktu yang diperlukan dan metode pendekatan yang digunakan.
Pertama, Model atau Jenis Persemaian. Mengingat ada begitu banyak model persemaian yang ditawarkan, keluarga pun mesti memilih jenis persemaian yang tepat untuk diterapkan. Model persemaian yang tepat, hemat penulis, untuk konteks pendidikan keluarga adalah model persemaian tetap.
Persemaian tetap dalam konteks ini dipahami sebagai tempat terjadinya proses pendidikan. Proses pendidikan terjadi di dalam keluarga itu sendiri, tidak dipindahkan atau mempercayai suatu lembaga atau asrama untuk mendidik anak.
Kedua, Lokasi Persemaian. Konsep persemaian tetap merupakan lawan dari suatu model pendidikan yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak kepada sekolah atau pihak lain.
Pendidikan yang menitipkan anak menyebabkan orang tua apatis terhadap pendidikan anak dalam keluarga, padahal sebagian besar waktu anak justru dihabiskan di dalam lingkungan keluarganya. Kecenderungan tersebut tidak hanya terjadi pada keluarga yang orang tuanya awam akan pendidikan, tetapi justru mulai menggejala pada golongan intelektual.
Orang tua cenderung lebih mengutamakan pekerjaan dan kesibukannya sendiri daripada memperhatikan pendidikan anak-anak di keluarganya. Terlebih-lebih pada keluarga yang orang tuanya sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Dalam keluarga semacam ini, pendidikan keluarga hampir-hampir “punah” sebab masing-masing sibuk mengurusi pekerjaannya.
Dalam lingkungan keluarga seperti ini, anak akan tercukupi kebutuhan fisik dan materialnya, tetapi sangat menderita secara rohani. Akibatnya, anak mencari perhatian dengan melakukan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan.
Bahkan, tidak jarang anak dari keluarga yang secara ekonomis tercukupi kebutuhannya dan pendidikan orang tuanya tinggi, tetapi akhlak dan moralnya berantakan. Satu penyebab utamanya adalah tidak kuatnya peran atau fungsi keluarga dalam mendidik anak-anaknya (sumber).
Ketiga, Pemenuhan Kebutuhan. Dalam persemaian tetap segala kebutuhan baik kebutuhan akan bahan maupun peralatan dari seluruh anggota keluarga mesti diperhatikan secara tepat, cepat dan akurat. Sebagaimana halnya dalam dunia pertanian, kelebihan dosis pupuk atau obat saja akan menyebabkan efek samping bagi perkembangan tanaman demikian pula halnya dengan pemenuhan kebutuhan anak.
Dalam memenuhi kebutuhan anak, orang tua mesti berada pada tempat/posisi yang tepat untuk melihat kebutuhan anak sehingga dalam menjawabi kebutuhan anak, orang tua tidak mendasarkan tindakan pemenuhan kebutuhan anak berdasarkan faktor keinginan anak melulu melainkan berdasarkan atas analisis kebutuhan yang akurat. Orang tua harus tahu membedakan apakah permintaan anak hanya sebagai reperesentasi keinginan ataukah representasi kebutuhan.
Keempat, Tata Kelola Waktu. Keluarga sebagai tempat persemaian tetap harus memiliki tata kelola waktu yang tepat. Tata kelola waktu yang dimaksudkan di sini erat hubungannya dengan seberapa waktu yang dibutuhkan anak di dalam rumah dan sejauh mana keefektivitasan waktu bagi anak itu sendiri.
Anak tidak hanya merasa nyaman dalam ketersediaan waktu tetapi juga memantau seberapa “dalam” ia memanfaatkan waktu yang diperolehnya. Oleh karena itu, orang tua perlu membuat jadwal kegiatan tetap anak. Pelanggaran atas jadwal kegiatan mesti diberi sanksi yang tegas. Pemberian sanksi bermaksud agar anak tidak tumbuh dalam budaya permisif.
Kelima, Metode Pendekatan. Orang tua selaku pelopor pendidikan anak mesti menguasai penguasaan metode didaktik dan psikologi anak. Edi Warsidi dalam artikelnya berpendapat bahwa penguasaan metode didaktik dan psikologi anak merupakan unsur mutlak yang harus dimiliki orang tua. Orang tua harus mampu menjalankan fungsi edukatif. Agar fungsi edukatif berjalan secara efektif dan efesien perlu menggunakan metodologi dan media yang tepat.
Proses pendidikan yang tidak memperhatikan metodologi yang tepat dan psikologi perkembangan dapat melahirkan insan yang salah asuhan. Oleh sebab itu, orang tua yang bijaksana akan berupaya meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan metodologi didaktik dan psikologi perkembangan anak.
Akhirnya, keluarga adalah komponen pertama dan utama dalam pendidikan anak karena ia berfungsi sebagai penopang, tempat berkembangnya akar dan perantara untuk menyuplai nutrisi yang dibutuhkan anak dalam lingkungan alaminya. Tumbuhnya seorang anak sangat terpegantung pada kualitas di mana anak itu hidup. Semakin baik media hidupnya, semakin bagus juga perkembangan anaknya.

Tulisan ini pernah ditulis di https://www.kompasiana.com/evridus1636/5d2dda880d82302daf4309c2/konsep-pendidikan-anak-dalam-keluarga-sebuah-tinjauan-filosofis?page=all

Iklan

SMK Negeri 1 Welak Gandeng TNI Dalam Kegiatan MPLS

Guru-Guru SMK Negeri 1 Welak, Aparat TNI dari Koramil Lembor, dan Siswa/i SMKN 1 Welak


Mengawali tahun ajaran baru 2019/2020, Sekolah-sekolah di Manggarai Barat secara serentak menggelar Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Di beberapa sekolah, ada yang menggandeng kemitraan dengan personel TNI dan anggota POLRI untuk didatangkan ke sekolah guna memberikan materi MPLS kepada para siswa baru. Salah satunya adalah SMK Negeri 1 Welak yang beralamat di Datak, desa Golo Ronggot, Kecamatan Welak. (Selasa, 16/07/2019).

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bertujuan untuk mengenalkan peserta didik dalam lingkungan belajar yang baru agar memiliki kesiapan belajar yang baik. Mereka dikenalkan tentang fasilitas belajar, strategi belajar, kurikulum, tata tertib siswa, kultur akademik pada sekolah baru beserta lingkungan barunya, pendidik dan tenaga kependidikan, serta teman-teman, baik seangkatan, maupun kakak-kakak kelasnya.

Kepala sekolah SMK Negeri 1 Welak, Siprianus Jemadi, S.Pd. mengatakan, “Hari ini dari pihak TNI akan mengisi beberapa materi dalam MPLS, diantaranya Wawasan Kebangsaan, Peraturan Baris Berbaris (PBB) dan Tata Upacara Bendera. Materi ini sangat mutlak diberikan dan dilakukan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, semangat juang yang tinggi dan juga kedisiplinan”.

Pada kegiatan MPLS di hari Kedua ini, Pihak SMK Negeri 1 Welak menggandeng Aparat TNI dari Koramil Lembor, yaitu Serma Hendrikus S. , Serka Eri Hariadin, dan Serda Ketut Lopi. Ketiga personel militer ini, tampil menyampaikan materi Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara, serta materi dasar Peraturan Baris Berbaris (PBB) termasuk pemberian bimbingan praktik teknik gerakan dan aba-abanya. “Materi ini diberikan kepada siswa dengan tujuan membangun sikap disiplin, berkarakter, dan perilaku yang bertanggungjawab”, terang Hendrikus.

Diawal kegiatan, Serma Hendrikus S. mengingatkan kepada Siswa SMKN 1 Welak untuk tetap mengatur pola makan dengan baik agar ketika berada di Sekolah tidak lagi mengeluh sakit, memikirkan perut yang menghambat belajar di Sekolah. Beliau juga mengingatkan agar para siswa bisa menghargai sesama, bertutur kata yang baik dan berperilaku sopan, menjunjung kedisiplinan, dan patuh terhadap peraturan di Sekolah. Beliau menambahkan bahwa para siswa ketika tamat juga berpeluang untuk bergabung dengan TNI.

Kegiatan MPLS ini dilaksanakan selama 3 hari dan diikuti oleh seluruh siswa sebanyak 80 siswa baru SMK Negeri 1 Welak. Hari ini (Selasa, 16/07/2019) adalah hari kedua kegiatan MPLS dimana pihak SMK Negeri 1 Welak menggandeng TNI dari Koramil Lembor untuk membawa Materi Wawasan Kebangsaan, Bela Negara, dan Peraturan Baris Berbaris (PBB).

(Ari Bero)

Save Dongki, Stop Bullying

Foto : Ari Bero (bisa juga dipanggil Dongki)

Jagat maya Manggarai Raya kembali geger gara-gara kata dongki. Salah satu akun media sosial Facebook putra Manggarai Barat menjadi sasaran bullyan dari Netizen Manggarai dan Manggarai Timur. Ya, bullyan itu bagi mereka mungkin suatu keharusan setelah di”dongki”kan dalam status Facebook salah seorang Netizen Manggarai Barat tersebut. Itulah jagat maya, hampir-hampir semua akun media sosial mengalami sindrome kebaperan yang luar biasa. Untuk meredam bullyan yang berkepanjangan, semoga cerita singkat ini menjadi pemutusnya.

Dua hari yang lalu, Presiden RI, Ir. Jokowidodo bersama Ibu Negara Iriana dan beberapa jajaran Kabinet mengunjungi Labuan Bajo. Kedatangannya disambut antusiasme Masyarakat Manggarai Barat. Bertemu dengan Orang Nomor 1 di Indonesia yang terkenal bersahaja ini merupakan kerinduan seluruh Rakyat Indonesia, apalagi saya. (hmmm).

Memang, Jokowi adalah Presiden yang sangat dirindukan. Kedatangannya di Labuan Bajo cukup membuat sesak. Bandara Sesak, Puncak Waringin sesak, setiap jejaknya nyaris sesak. Beliau dikerumuni oleh rakyat yang mencintainya. Saya yang datang jauh-jauh dari Ranggu, pelosok Manggarai Barat, sama sekali tak mendapat kesempatan, walau hanya sekedar foto selfie bersama sang Idola. (emoticon sedih).

Jokowi yang bersahaja itu, sudah membuat gaduh Manggarai Raya. Netizen Manggarai duet dengan Netizen Manggarai Timur membuli salah satu akun Netizen di Manggarai Barat. Bukan gaduh apa, gaduh karena belum kebagian bertemu Bapak. Maafkan Pak, terpaksa Bapak lagi yang disalahkan agar cacing-cacing Netizen ini tidak kepanasan lagi.

Pak Jokowi, gara-gara Bapak kami jadi baper. Bapak Jokowi, Bapak yang dongki, kami mencintaimu. Kami selalu menanti kehadiran Bapak lagi.

Semoga…

***

Pesan buat Enu-enu di Manggarai dan Manggarai Timur: Panggil saya Dongki ka de, ya! (emoticon love).

Guru dan Perubahan

Oleh : Rhenald Kasali

Tak dapat disangkal, guru merupakan sosok penting yang mengawal perubahan di awal abad XXI. Guru berpikir jauh ke depan, bukan terbelenggu ilmu masa lalu, sebab tak banyak orang yang melihat anak-anak telah hidup di sebuah peradaban yang berbeda dengannya.

Sementara kurikulum baru yang belum tentu sempurna sudah dihujat, kaum muda mengatakan kurikulum lama sudah tidak relevan mengisi masa depan mereka. Untuk pertama kali dalam sejarah, dunia kerja dan sekolah diisi empat generasi sekaligus, generasi kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet, dan generasi telepon pintar.

Terjadi celah antargenerasi, “tulis dan temui saya” (generasi kertas), “telepon saja” (generasi komputer), “kirim via surel” (generasi internet), tetapi generasi terbaru mengatakan, “Cukup chat saja”.

Yang tua rapat dengan perjalanan dinas, yang muda pakai chat. Generasi kertas bersekolah dalam sistem linier terpisah-pisah antarsubyek, sedangkan kaum muda belajar integratif, lingkungannya dinamis, bersenang- senang, dan multitasking.

Sekolah bahkan tidak lagi memisahkan kelas (teori) dari lab.
Lewat studinya, The Institute for the Future, University of Phoenix (2012), menemukan, kaum muda akan mengalami usia lanjut yang mengubah peta belajar dan karier. Mereka pensiun di usia 70 tahun, harus terbiasa dalam budaya belajar seumur hidup dan merawat otaknya.

Generasi yang terakses jaringan TI bisa lebih cepat dari orangtuanya merencanakan masa depan. Pandangan mereka sama sekali bertentangan dengan celoteh kaum tua di media massa atau suara sumbang yang menentang pembaruan.

Ketika guru kolot yang baru belajar Facebook mengagung-agungkan Wikipedia, kaum muda sudah menjelajahi literatur terbaru di kampus Google. Saat orang tua berpikir kuliah di fakultas tradisional (hukum, ekonomi, kedokteran), generasi baru mengeksploitasi ilmu masa depan (TI kreatif, manajemen ketel cerdas, atau perdapuran kreatif).

Cita-citanya menjadi koki, perancang busana, atau profesi independen lain. Ketika geologiman generasi kertas menambang di perut bumi, mereka merancang robot-robot raksasa untuk menambang di meteor. Bila eksekutif tua rindu diterima di Harvard, generasi baru pilih The Culinary Institute of America.

Bahasa dan fisika

Sulit bagi generasi kertas menerima pendidikan yang integratif. Bagi kami, fisika dan bahasa adalah dua subyek terpisah, beda guru dan keahlian. Satu otak kiri, satunya otak kanan. Kita mengerti karena dibesarkan dalam rancang belajar elemen, bukan integratif. Dengan cara lama itu, bingkai berpikir kita bahasa diajarkan sarjana sastra, fisika diajarkan orang MIPA.

Dari model sekolah itu wajar kebanyakan aktuaris kurang senyum, ilmunya sangat serius, matematika. Namun, saat meluncurkan program MM Aktuaria minggu lalu, saya bertemu direktur aktuaria sebuah perusahaan asuransi lulusan Kanada yang punya hobi melukis dan mudah senyum. Mengapa di sini orang pintar susah senyum?

Sewaktu mengambil program doktor, saya menyaksikan Gary Stanley Becker (Nobelis Ekonomi, 1992) menurunkan rumus matematika Teori Ekonomi Kawin-Cerai dengan bahasa yang indah. Mendengarkan kuliahnya, saya bisa melihat dengan jelas mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa membuat keluarga-keluarga Indonesia berevolusi menjadi orangtua tunggal.

Rendahnya komunikasi dan pengambilan putusan dalam pen- didikan dasar jelas akan membuat generasi baru kesulitan meraih pintu masa depannya. Di Jepang, seorang kandidat doktor asal Indonesia digugurkan komite penguji bukan karena kurang pandai, melainkan buruk bahasanya. Ia hanya pakai bahasa jari dengan kalimat “from this, and then this …, this…, this…, and proof”.

Waktu saya tanya, para penguji berkata, “Sahabatku, tanpa bahasa yang baik, orang ini tak bisa ke mana-mana. Ia harus belajar berbahasa kembali.” Tanpa kemampuan integratif, kemampuan kuantitatif, anak- anak pintar Indonesia tak akan mencapai impiannya.

Jadi, kurikulum mutlak harus diperbaiki. Jangan hanya ngomel atau saling menyalahkan. Ini saat mengawal perubahan. Namun, catatan saya, Indonesia butuh life skills, yakni keterampilan melihat multiperspektif untuk menjaga persatuan dalam keberagaman, assertiveness untuk buang sifat agresif, dan asal omong dalam berdemokrasi.

Indonesia butuh mental yang tumbuh, jiwa positif memulai cara-cara baru, keterampilan berpikir kritis melawan mitos, dan metode pengajaran yang menyemangati, bukan budaya menghukum dan bikin bingung.

Inilah saat guru dan orangtua berubah. Dimulai dari kesadaran, dunia baru beda dengan dunia kita. Cara berpikir kita harus bisa mengawal anak-anak jadi pemenang di akhir abad XXI dengan rentang usia jauh lebih panjang.


RHENALD KASALI Guru Besar FE UI
(Kompas cetak, 7 Feb 2013)

Kecelakaan Tunggal Di Kondok, Motor Bersama Tiga Korban Terperosok Ke Jurang

Motor Terperosok Ke Jurang (Foto : Bastian Ngamal)

Seorang pengendara sepeda motor yang berboncengan dengan ayah dan seorang adiknya mengalami kecelakaan tunggal dijalur Golowelu-Orong, tepat ditikungan di Kondok, Desa Golo Wedong, Kecamatan Kuwus Barat, Jum’at (07/06/2019) Sore.

Tak diketahui pasti penyebab kecelakaan, lantaran motor bersama 3 orang korban masuk ke dalam jurang sebelah kiri jalan. Diduga motor yang mereka tumpangi mengalami bolong rem.

Evakuasi Korban (Foto: Bastian Ngamal)


Bastian Ngamal yang menyaksikan kejadian itu mendapati motor yang terperosok ke jurang bersama korban dalam keadaan luka cukup serius. Melihat keadaan itu Bastian dengan memanfaatkan mobil pribadinya langsung mengevakuasi korban ke Puskesmas Ranggu.

Berdasarkan penelusuran identitas, korban kecelakaan bernama Gaspar (Ayah), Seli (Anak/pengendara motor), dan Fain (Anak). Korban berasal dari Ndaung, Desa Kolang, Kecamatan Kuwus Barat. Korban atas nama Gaspar dan Seli mengalami luka pada bagian dagu dan kaki.
Korban saat ini sudah berada di Puskesmas Ranggu dan sedang ditangani oleh petugas medis.

(Ari Bero)