Guru dan Perubahan

Oleh : Rhenald Kasali

Tak dapat disangkal, guru merupakan sosok penting yang mengawal perubahan di awal abad XXI. Guru berpikir jauh ke depan, bukan terbelenggu ilmu masa lalu, sebab tak banyak orang yang melihat anak-anak telah hidup di sebuah peradaban yang berbeda dengannya.

Sementara kurikulum baru yang belum tentu sempurna sudah dihujat, kaum muda mengatakan kurikulum lama sudah tidak relevan mengisi masa depan mereka. Untuk pertama kali dalam sejarah, dunia kerja dan sekolah diisi empat generasi sekaligus, generasi kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet, dan generasi telepon pintar.

Terjadi celah antargenerasi, “tulis dan temui saya” (generasi kertas), “telepon saja” (generasi komputer), “kirim via surel” (generasi internet), tetapi generasi terbaru mengatakan, “Cukup chat saja”.

Yang tua rapat dengan perjalanan dinas, yang muda pakai chat. Generasi kertas bersekolah dalam sistem linier terpisah-pisah antarsubyek, sedangkan kaum muda belajar integratif, lingkungannya dinamis, bersenang- senang, dan multitasking.

Sekolah bahkan tidak lagi memisahkan kelas (teori) dari lab.
Lewat studinya, The Institute for the Future, University of Phoenix (2012), menemukan, kaum muda akan mengalami usia lanjut yang mengubah peta belajar dan karier. Mereka pensiun di usia 70 tahun, harus terbiasa dalam budaya belajar seumur hidup dan merawat otaknya.

Generasi yang terakses jaringan TI bisa lebih cepat dari orangtuanya merencanakan masa depan. Pandangan mereka sama sekali bertentangan dengan celoteh kaum tua di media massa atau suara sumbang yang menentang pembaruan.

Ketika guru kolot yang baru belajar Facebook mengagung-agungkan Wikipedia, kaum muda sudah menjelajahi literatur terbaru di kampus Google. Saat orang tua berpikir kuliah di fakultas tradisional (hukum, ekonomi, kedokteran), generasi baru mengeksploitasi ilmu masa depan (TI kreatif, manajemen ketel cerdas, atau perdapuran kreatif).

Cita-citanya menjadi koki, perancang busana, atau profesi independen lain. Ketika geologiman generasi kertas menambang di perut bumi, mereka merancang robot-robot raksasa untuk menambang di meteor. Bila eksekutif tua rindu diterima di Harvard, generasi baru pilih The Culinary Institute of America.

Bahasa dan fisika

Sulit bagi generasi kertas menerima pendidikan yang integratif. Bagi kami, fisika dan bahasa adalah dua subyek terpisah, beda guru dan keahlian. Satu otak kiri, satunya otak kanan. Kita mengerti karena dibesarkan dalam rancang belajar elemen, bukan integratif. Dengan cara lama itu, bingkai berpikir kita bahasa diajarkan sarjana sastra, fisika diajarkan orang MIPA.

Dari model sekolah itu wajar kebanyakan aktuaris kurang senyum, ilmunya sangat serius, matematika. Namun, saat meluncurkan program MM Aktuaria minggu lalu, saya bertemu direktur aktuaria sebuah perusahaan asuransi lulusan Kanada yang punya hobi melukis dan mudah senyum. Mengapa di sini orang pintar susah senyum?

Sewaktu mengambil program doktor, saya menyaksikan Gary Stanley Becker (Nobelis Ekonomi, 1992) menurunkan rumus matematika Teori Ekonomi Kawin-Cerai dengan bahasa yang indah. Mendengarkan kuliahnya, saya bisa melihat dengan jelas mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa membuat keluarga-keluarga Indonesia berevolusi menjadi orangtua tunggal.

Rendahnya komunikasi dan pengambilan putusan dalam pen- didikan dasar jelas akan membuat generasi baru kesulitan meraih pintu masa depannya. Di Jepang, seorang kandidat doktor asal Indonesia digugurkan komite penguji bukan karena kurang pandai, melainkan buruk bahasanya. Ia hanya pakai bahasa jari dengan kalimat “from this, and then this …, this…, this…, and proof”.

Waktu saya tanya, para penguji berkata, “Sahabatku, tanpa bahasa yang baik, orang ini tak bisa ke mana-mana. Ia harus belajar berbahasa kembali.” Tanpa kemampuan integratif, kemampuan kuantitatif, anak- anak pintar Indonesia tak akan mencapai impiannya.

Jadi, kurikulum mutlak harus diperbaiki. Jangan hanya ngomel atau saling menyalahkan. Ini saat mengawal perubahan. Namun, catatan saya, Indonesia butuh life skills, yakni keterampilan melihat multiperspektif untuk menjaga persatuan dalam keberagaman, assertiveness untuk buang sifat agresif, dan asal omong dalam berdemokrasi.

Indonesia butuh mental yang tumbuh, jiwa positif memulai cara-cara baru, keterampilan berpikir kritis melawan mitos, dan metode pengajaran yang menyemangati, bukan budaya menghukum dan bikin bingung.

Inilah saat guru dan orangtua berubah. Dimulai dari kesadaran, dunia baru beda dengan dunia kita. Cara berpikir kita harus bisa mengawal anak-anak jadi pemenang di akhir abad XXI dengan rentang usia jauh lebih panjang.


RHENALD KASALI Guru Besar FE UI
(Kompas cetak, 7 Feb 2013)

Kecelakaan Tunggal Di Kondok, Motor Bersama Tiga Korban Terperosok Ke Jurang

Motor Terperosok Ke Jurang (Foto : Bastian Ngamal)

Seorang pengendara sepeda motor yang berboncengan dengan ayah dan seorang adiknya mengalami kecelakaan tunggal dijalur Golowelu-Orong, tepat ditikungan di Kondok, Desa Golo Wedong, Kecamatan Kuwus Barat, Jum’at (07/06/2019) Sore.

Tak diketahui pasti penyebab kecelakaan, lantaran motor bersama 3 orang korban masuk ke dalam jurang sebelah kiri jalan. Diduga motor yang mereka tumpangi mengalami bolong rem.

Evakuasi Korban (Foto: Bastian Ngamal)


Bastian Ngamal yang menyaksikan kejadian itu mendapati motor yang terperosok ke jurang bersama korban dalam keadaan luka cukup serius. Melihat keadaan itu Bastian dengan memanfaatkan mobil pribadinya langsung mengevakuasi korban ke Puskesmas Ranggu.

Berdasarkan penelusuran identitas, korban kecelakaan bernama Gaspar (Ayah), Seli (Anak/pengendara motor), dan Fain (Anak). Korban berasal dari Ndaung, Desa Kolang, Kecamatan Kuwus Barat. Korban atas nama Gaspar dan Seli mengalami luka pada bagian dagu dan kaki.
Korban saat ini sudah berada di Puskesmas Ranggu dan sedang ditangani oleh petugas medis.

(Ari Bero)

Surat Terbuka Boni Hargens Kepada Pimpinan KPK

Boni Hargens Mengirim Surat Terbuka Kepada Pimpinan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK). Dalam isi surat tersebut, Boni Hargens menjabarkan beberapa kasus yang berakibat pada rendahnya kualitas pelayanan Pemerintah di Daerah.

Berikut Surat terbuka Boni Hargens yang dimuat didinding Facebook miliknya. (Boni Hargens : https://www.facebook.com/boni.hargensii ;

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2294118150627005&id=100000865272988 )

Yth Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Tempat,

Saya mengapresiasi segala upaya dan kerjakeras KPK dalam memberantas korupsi di negeri ini. Namun, kita semua tahu, rendahnya kualitas pelayanan pemerintah di tingkat daerah tidak terlepas dari sejumlah faktor seperti isu kualitas sumberdaya manusia (Human Resources), kerumitan birokratis, dan terutama praktek korupsi.

Terkait masalah ini, terutama pada aspek korupsi, saya meminta KPK lebih serius mengawasi kinerja dan menginvestigasi potensi korupsi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Lebih khusus lagi, dalam surat ini, saya meminta KPK menginvestigasi pemakaian anggaran kesehatan di Kabupaten Manggarai, sebagaimana di kabupaten/kota lain di Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Selain kemiskinan, rendahnya mutu pelayanan kesehatan merupakan isu besar yang menghambat pembangunan manusia di Manggarai, khususnya, dan NTT umumnya.

Kiranya surat ini mendapat perhatian dari Institusi KPK sebagai pranata demokrasi yang menjadi harapan masyarkat dalam mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih.

Hormat saya,

Boni Hargens,
Jakarta, 4 Juni 2019

PERLU ADANYA KESEPAHAMAN ANTARA GURU, SISWA DAN ORANGTUA SISWA

Oleh : Roy Nabal

Dalam beberapa tahun terakhir, kita (khususnya yang berkecimpung di Dunia pendidikan) dihadapkan dengan permasalahan yang -bagi saya- sangat serius dan akan sangat berpengaruh pada sebuah dinamika pendidikan yang terjadi. Salah satunya adalah kejadian di Manggarai Timur yang disebarkan oleh Manggarai Post tentang seorang kepala Sekolah yang dilaporkan ke Polisi karena diduga memukul murid yang tidak mengikuti ibadah Hari Minggu di Sekolah. Hal ini membuat saya ingin berkomentar, karena saya adalah salah seorang lulusan pendidikan keguruan.

Kita tentunya sependapat bahwa salah satu tugas penting yang diemban pundak seorang guru adalah mendidik siswa dalam hal kedisiplinan dan dalam prosesnya, mendisiplinkan seseorang tentunya sebuah pekerjaan yang sangat sulit untuk dilakukan. Selain itu, karakter dari setiap siswa yang dihadapi beragam sehingga seorang guru harus memiliki banyak siasat agar tindakan mendisiplinkan ini dapat berjalan dengan baik dan hasilnya juga baik yang ditandai dengan adanya perubahan sikap (baca: kedisiplinan) siswa yang baik.

Idealnya, seorang guru harus memiliki seribu akal dan berbagai metode untuk dapat melaksanakan tugas ini. Tapi, kita juga tidak bisa kesampingkan bahwa seorang guru juga memiliki banyak keterbatasannya sebagai seorang manusia. Seorang guru tidak dapat menerapkan secara sempurna perinsip “ideal” dalam melaksanakan tugasnya untuk mendisiplinkan siswanya.

Karena keterbatasannya (sebagai manusia) dalam melaksanakan tugas ini, seorang guru tentunya akan melakukan tugasnya dengan menggunakan prinsip yang sedikit keluar dari prinsip ideal itu. Prinsip yang keluar dari ideal ini dapat ditunjukan dengan sebuah pendekatan yang “agak keras” dalam mendisiplinkan.

Pendekatan “agak keras”, menurut saya, merupakan sebuah alternatif yang diambil oleh seorang guru karena dalam proses mendisiplinkan ini, seorang guru sudah mengalami kebuntuan dari segi akal dan metode, yang mungkin saja tidak menemukan sesuatu yang sesuai dengan katakter siswa yang dihadapinya.

Saya dan kita semua tentunya tidak dapat menerima model pendekatan “agak keras” ini karena merupakan sebuah pelanggaran yang diyakini dapat berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan seorang siswa. Tapi, jika hal ini juga tidak dilakukan, kita semua akan dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit yakni seorang siswa tetap akan tidak memiliki sikap disiplin atau kita mengaminkan pendekatan “agak keras” sehingga siswa memiliki sikap disiplin. Kedua pilihan ini, bagi saya, adalah sebuah pilihan yang sangat sulit, karena dari kedua pilihan ini, kita bertaruh sesuatu yang sama besarnya.

Kembali kepada kasus mempidanakan guru. Kejadian ini (guru vs orangtua siswa) merupakan kejadian yang tidak bisa dihindari dari dunia pendidikan pada saat ini, karena akan berada di dua kondisi yang berbeda dari dua belah pihak, yakni guru dan orang tua murid. Ini terjadi karena baik guru maupun orangtua memiliki persepsi berbeda tentang tindakan mendisiplinkan. Perbedaan ini dapat kita lihat dari peraturan-peraturan yang dilahirkan oleh pemerintah yakni PP No 74 tahun 2008 (Pasal 39 ayat 2 PP tentang Guru) dan UU perlindungan anak dan Perempuan (Pasal 16 ayat (1) tahun 2002, dan Pasal 76C tahun 2014 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak).

Tindakan mendidik (oleh guru) vs kekerasan terhadap anak (orangtua murid).

Hal ini pernah saya tulis dalam opini saya yang dimuat pada media Katakanlah.com yang bertajuk Guruku malang, guruku sayang. Tulisan yang dimuat karena keresahan yang saya tentang dunia pendidikan yang sekarang lebih dilihat sebagai arena pertarungan dua buah persepsi yang termaktub dalam dua aturan hukum.

Dalam PP Nomor 74 Tahun 2008 telah dijelaskan posisi guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dalam Pasal 39 ayat 1 dijelaskan bahwa guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya. Dalam ayat 2 disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.
Dalam ayat 2 Pasal 39 ini dijelaskan bentuk tindakan mendisiplinkan yang bisa dilakukan oleh guru, namun harus sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undagan.

Hal ini tentunya membingungkan dan cukup sulit untuk dipahami. Di satu sisi diperlukannya tindakan mendisiplinkan, namun tetap disesuaikan dengan kaedah pendidikan, kode etik dan sesuai peraturan.

Saya tidak terlalu tahu saat pembuatan peraturan ini, apakah mereka yang membuatnya dalah orang-orang pendidikan yang pernah berada di dunia pendidikan. Karena di lapangan akan ditemukan banyak kejadian yang membuat seorang guru perlu melanggar beberapa kaedah dan kode etik, dan bahkan peraturan perundang-undangan, karena tindakan medisiplinkan ini. Mendisiplinkan sejatinya tidak bisa dilakukan setengah-setengah untuk menghasilkan output pendidikan yang baik.

Lalu, UU Perlindungan anak yang kenyataannya sangat bertolak belakang dengan PP tentang guru, yakni diantaranya Pasal 16 (1) tahun 2002 berbunyi, “Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi”. Dan Pasal 76C tahun 2014 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak) berbunyi, “Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak”.

Pasal 16 (1) tahun 2002 dan pasal 76C tahun 2014 di atas dijelaskan bahwa anak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan setiap orang dilarang melakukan kekerasan terhadap anak. Hal ini tentunya menjadi senjata yang ampuh untuk menjerat guru atau pelaku kekerasan lainnya. Mungkin sejatinya peraturan ini akan sangat dibutuhkan untuk kekerasan yang dilakukan di luar dunia pendidikan, tetapi untuk dunia pendidikan itu sendiri, undang-undang ini menjadi salah satu permasalahan serius karena kehadirannya mempertentang peraturan tentang mendisiplinkan siswa. Karena hal ini tidak dispesifikasikan untuk kekerasan dalam dunia pendidikan.

Dilihat dari berbagai masalah yang terjadi di dunia pendidikan yang terjadi beberapa tahun terakhir, kedua belah pihak berdalil dengan dua buah aturan tersbut di atas.

Dari hal ini kita bisa melihat bahwa, ada perbedaan persepsi yang cukup besar tentang sebuah tindakan yang dilakukan (baca: kekerasan) oleh guru.

Lantas apa yang bisa dilakukan dengan kedua hal di atas (peraturan)?

Sejatinya perbedaan ini dapat diminimalisir dengan beberapa langkah yang bisa diambil.

Pertama, Pemerintah perlu memberikan ketegasan terhadap peraturan di atas. Pemerintah sejatinya memiliki peran yang sangat penting pada masalah ini. Karena peraturan-peraturan ini lahir sebagai pertimbangan pemerintah, namun, menjadi masalah yang cukup rumit ketika masyarakat, baik guru dan orangtua tidak mampu menerjemahkannya secara baik tentang peraturan tersebut.

Kejadian dalam pendidikan baik pendekatan kekerasan yang dilakukan seorang guru ataupun mempidanakan guru oleh orang tua sejatinya lahir karena perbedaan persepsi dari kedua belah pihak ini dalam mengartikan sebuah kekerasan. Dari pihak guru akan beranggapan bahwa kekerasan itu perlu karena untuk mendisiplinkan, dan dari pihak orangtua akan beranggapan bahwa kekerasan itu merupakan tindakan yang tidak manusiawi.

Kedua pandangan ini perlu disamakan untuk menghindari peristiwa yang tidak elok ini. Memang pada dasarnya sebuah tindakan tidak dapat diukur secara pasti mengenai batas-batasnya. Namun, masih bisa diakal dengan peraturan-peraturan yang dapat mengendalikan situasi. Misalnya tingkat kekerasan dan media yang digunakan perlu diatur dengan sejelas-jelasnya. Kekerasan fisik yang masih mungkin bisa dilakukan seperti apa dan kekeran non-fisik yang bisa dilakukan seperti apa.

Dengan jelasnya kedua hal ini, maka akan mengurangi perbedaan pandagan dari kedua belah pihak yang berseteru ini.

Maka dari itu, pemerintah sangat perlu dianjurkan untuk membuat batas-batas diberlakukan peraturan-peraturan tersebut. Sejauh mana tindakan pendisiplinan oleh seorang guru terhadap anak (siswa/i) dan saat mana UU tentang perlindungan anak bisa diberlakukan untuk sebauh tindakan mendisiplinkan oleh seorang guru.

Kedua, Sekolah perlu membuat sebuah peraturan berdasarkan kesepakatan bersama (Guru, Siswa, dan Orangtua).

Karena belum ada ketegasan dan kejelasan mengenai batas-batas dari peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah, saya menilai bahwa langkah ini juga sangat perlu dilakukan untuk meminimalisir terjadi kejadian tersebut di atas. Sekolah perlu menyediakan sebuah ruang diskusi yang mempertemukan pihak guru, siswa dan Orangtua siswa untuk membahas hal ini.Ruang diskusi ini akan menghasilkan beberapa kesepakatan tentang tindakan yang perlu dilakukan dan dipatuhi oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya, peraturan-peraturan yang perlu dipatuhi oleh siswa dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh orangtua siswa ketika melihat sebuah proses yang terjadi di luar kesepakatan yang telah disepakati.

Dengan adanya ruang diskusi dan kesepakatan bersama ini, saya meyakini bahwa, sebuah proses pendidikan dapat berjalan dengan baik karena perbedaan pandangan antara guru, siswa dan orangtua siswa dapat dicegah.

Konsep 3N (Niteni, Niroke, Nambahi) Ki Hadjar Dewantara

Oleh : Roy Nabal

Foto : Roy Nabal |Dok. Pribadi


Tentang pendidkan, Ki Hadjar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia melahirkan banyak sekali konsep yang seyogyanya berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Di antara konsep-konsep Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan, salah satunya adalah konsep 3N, yakni Niteni, Niroke, dan Nambahi yang merupakan konsep yang digagas dalam Bahasa Jawa yang bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berarti mengamati, meniru, dan menambahkan.

Kualitas pendidikan merupakan hal yang tentunya menjadi tujuan dari sebuah proses pendidikan dan juga sebagai tujuan yang ingin dicapai oleh sebuah lembaga pendidikan. Namun, untuk mencapai tujuan mulia itu, pendidikan perlu banyak memikirkan langkah strategis yang perlu diambil. Ada lembaga yang memang mampu membaca keadaan dan kemudian merencanakan dan melaksanakan sebuah langkah strategis dalam pemenuhan tujuan tersebut yang tercermin dalam proses dan hasil yang baik. Namun, di samping itu, terdapat pula lembaga yang sebelumnya telah berusaha merencanakan dan melaksanakan langkah strategis untuk mencapai tujuan mulia tersebut, tetapi masih memiliki atau menghadapi kebuntuan yang ditunjukan dengan hasil dari proses yang belum optimal.

Melihat kenyataan yang demikian ketiga kata dalam konsep 3N yang digagas oleh Ki Hadjar Dewantara adalah beberapa langkah yang perlu diperhatikan atau perlu dipertimbangkan oleh pelaku pendidikan jika ingin memperoleh kemajuan atau kualitas dalam sebuah dinamika pendidikan.

Pertama, Niteni. Yang dalam Bahasa Indonesia berarti Mengamati.

Ki Hadjar Dewantara dalam konsep mengamati berarti melihat dengan baik segala proses (dalam konsteks pendidikan) dari sebuah proses pendidikan yang diselenggarakan oleh sebuah instansi pendidikan, entah instansi pendidikan dari dalam negeri maupun luar negeri. Mengamati dipandang sebagai langkah awal dari sebuah perubahan yang dalam kacamata pendidikan merupakan langkah instrospeksi penyelenggaraan. Tentang melihat atau mengamati proses yang sama namun memiliki hasil yang berbeda. Mengamati berarti proses yang bersifat refleksi tentang kekurangan yang ada dalam sebuah proses yang telah dijalani. Mengamati ini juga berarti sebuah proses membandingkan segala faktor yang mempengaruhi sebuah proses pendidikan.

Ranah mengamati ini lebih ditujukan kepada memabandingkan sebuah sistem pendidikan, baik ranah lokal, nasional maupun internasional atas sebuah proses pendidikan, yang diharapkan dari hasil mengamati ini mampu menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam perencanaan langkah strategis untuk dapat menyelenggarakan sebuah proses pendidikan yang lebih baik.

Kedua, Niroke. Yang dalam Bahasa Indonesia berarti Meniru.

Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa meniru adalah salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk mendapatkan perubahan setelah mengamati. Meniru berarti mengikuti (konteks pendidikan) proses yang dilaksanakan oleh sebuah instansi pendidikan yang dianggap lebih baik. Meniru ini dilakukan jika telah mencoba merumuskan dan melaksanakan langkah strategis setelah mengamati masih mengalami atau menemui kebuntuan untuk mencapai tujuan.

Meniru merupakan sebuah kata yang bermakna positif dan juga negatif, namun, Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa dalam konsep penyelenggaran pendidikan, meniru memiliki makna positif karena ranahnya kepada peningkatan mutu pendidikan. Yang ditiru adalah proses yang menjadikan sebuah instansi pendidikan mengalami perubahan lebih baik. Ketika berbicara mengenai penyelenggaraan atau proses, tentu hal ini erat mengarah kepada sistem pembentuk proses tersebut. Jadi, meniru dalam konteks penyelenggaraan atau proses pendidikan berarti meniru sistemnya, baik sumber daya manusia sebagai pelaku pendidikan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pelaku pendidikan (guru) dalam sebuah proses pendidikan dan langkah-lakah dalam rangka peningkatan kualitas pelaku pendidikan (guru) atau yang kita kenal dengan manajemen sumber daya manusianya, maupun segala sumber daya organisasi sekolah lainnya yang juga mengarah kepada pengelolaan atau manajemen sumber daya organisasi penunjuang segala proses pendidikan.

Jadi, bisa dikatakan juga bahwa meniru merupakan salah satu langkah strategis yang bisa dipakai dalam sebuah dinamika pendidikan untuk dapat mencapai kualitas pendidikan yang lebih baik.

Berkaitan dengan konsep niroke atau meniru ini, saya teringat dengan perkataan dari seorang murid perguruan beladiri dalam sebuah anime Jepang (berjudul Shijou Saikyou no Deshi Kenichi) yang mengikuti perkataan gurunya yang bernama Koetsuji Akisame yang dijuluki sebagai prajurit filsafat, “mewariskan beladiri itu dimulai dengan meniru”. Yang menunjukan bahwa meniru untuk sebuah perkembangan atau perubahan yang lebih baik adalah sebuah langkah yang sejatinya baik untuk dilakukan. Hal ini juga berlaku untuk pendidikan, bahwa untuk dapat menjadi lebih baik, meniru pengelolaan lembaga lain adalah hal yang perlu dilaksanakan untuk dapat menjadi lembaga yang baik juga.

Ketiga, Nambahi. Yang dalam Bahasa Indonesia berarti Menambahkan.

Kita tentunya sudah mengerti maksud dari konsep yang ketiga ini. Menambahkan berarti memasukan suatu unsur ke dalam sesuatu yang telah ada sebelumnya. Dalam konteks pendidikan, Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa menambahakan berarti sebuah proses yang dilakukan apabila setelah mengamati dan meniru dirasa atau ditemukan ada hal yang perlu ditambahkan agar proses pendidikan yang terjadi menjadi semakin lebih baik.

Untuk kaitannya dengan pendidikan di Indonesia, dengan melihat begitu beragamnya kondisi di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara berpemikiran bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan, konsep menambahkan ini berkaitan dengan segala keragaman yang ada atau lebih tepatnya disesuaikan dengan keberagaman yang ada.
Pendidikan di Indonesia sejatinya tidak bisa disamakan atas keadaan yang beragam ini. Sehingga, dalam sistemnya perlu menambahkan unsur yang menjadi identitas wilayah atau daerah dari sekolah tersebut berada. Dalam bahasa Ki Hadjar Dewantara, sistem pendidikan Indonesia perlu menambahkan ciri khas daerah di mana sebuah sekolah (proses pendidikan) berlangsung.

Bisa dimengerti, bahwa menambahkan adalah memasukan unsur kedaerahan atau ciri khas daerah atau kearifan lokal kedalam dinamika pendidikan. Kita tidak dapat memungkiri bahwa anak-anak/ murid/ siswa/i cendrung melihat kesesuaian antara sebuah teori dengan pengalaman kesehariannya. Yang ketika dalam sebuah pembelajaran, teoretis diaktualisasikan dengan segala bentuk pengalaman yang belum didapat oleh siswa melalui inderanya, maka teori yang dipelajari akan susah untuk dipahami. Namun, ketika teori diaktualisasikan dengan segala bentuk pengalaman (yang didapat melalui indera) siswa dalam kesehariannya, maka kemungkinan pemahaman akan teori yang sedang dipelajari oleh siswa akan lebih baik.

Ketika siswa/i dapat memahami sebuah teori yang telah dipelajari dalam sebuah proses pendidikan lebih baik, maka akan diikuti dengan hasil proses pendidikan yang lebih baik pula. Hasil yang baik ini manandakan bahwa sebuah proses berjalan dengan baik yang berarti tujuan pendidikan terpenuhi. Nambahi atau menambahkan ini juga merupakan salah satu langkah strategis untuk sebuah proses pendidikan yang lebih baik.

Mengenal Damar, Putra Dono Calon Doktor Nuklir Kampus Einstein

Damar Canggih Wicaksono. Dialah putra komedian Dono ” Warkop” yang tengah menempuh pendidikan Doktor di Swiss. Pemuda itu mendalami Teknik Nuklir.

Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohon. Demikianlah Damar. Dia tumbuh sebagai pemuda cerdas sebagaimana sang ayah. Jika Dono dikenal cerdas di bidang sosial, maka Damar mahir di bidang teknik.

Semasa hidup, Dono memang dikenal sosok yang cerdas dalam setiap lawakan. Menyampaikan kritik sosial melalui lelucon. Selain komedian, Dono juga seorang dosen Sosiologi di Universitas Indonesia.

Sementara, Damar adalah sarjana Teknik Nuklir. Dia lulusan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Masuk pada 2004, lulus lima tahun kemudian.

Pada 2010, anak ke dua dari tiga bersaudara ini hijrah ke Swiss. Dia meneruskan kuliah, mengambil program master di bidang Teknik Nuklir. Jurusan yang sudah lama dia geluti.

Di Swiss, Damar belajar di Institut TeknologiFederal di Zurich (ETHZ) dan Institut Teknologi Federal di Lausanne (EPFL). Kedua kampus ini membentuk domain Institut Teknologi Konfederasi Swiss (ETH).

Kampus ini sangat kondang di dunia. Dari kedua universitas itu lahir orang-orang besar. Peraih nobel dunia. Sebut saja Albert Einstein. Manusia jenius ini merupakan lulusan sekaligus profesor di ETHZ.

Dan pada 2012 silam, Damar merengkuh gelar master di bidang Teknik Nuklir dari kedua kamps itu, ETHZ dan EPFL. Kini, Damar melanjutkan pendidikan. Dia menempuh program Doktoral di EPFL.

Tentu ini merupakan sebuah pencapaian luar biasa. Yang sudah barang tentu tak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Selamat berjuang, semoga ilmu Anda bermanfaat untuk masyarakat!

Dikutip dari : https://m.dream.co.id/orbit/mengenal-damar-putra-dono-calon-doktor-nuklir-kampus-einstein-1512289.html