BAD INFLUENCERS : ANTITESIS PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh : Fritz Haryadi

Dengan subscribers rata-rata remaja usia sekolah, Atta Halilintar menayangkan video malam pertama. Lima juta penonton dalam tempo 24 jam. Tentu tidak ada konten porno, platform melarangnya; tapi ini menambah dosis baru dalam asupan kebodohan yang sudah terlalu lama dicekokkan kepada generasi muda kita.

Atta, dan banyak youtuber dengan tipe konten serupa, berada di kotak yang sama dengan sinetron, infotainment gosip, hingga gerakan agama yang puritan radikal : mereka semua Bad Influencers, pembawa pengaruh buruk.

Istri saya yang mengajar di SMP, sudah 2 tahun ini mengajak ngobrol anak-anak didiknya yang menjadi subscriber Atta. Rata-rata mereka mengaku hanya ikut-ikutan tren, seperti bisa diduga. Yang disukai anak-anak ini dari channel Atta diantaranya konten prank, pamer mobil mahal, pamer keseharian yang bergelimang kemewahan, dan ucapan “asiyaaap” yang menjadi trademarknya. Pendeknya, Atta adalah perpanjangan dari sinetron. Ia menghadirkan bukti bahwa kebodohan fiktif bisa menjadi nyata. Dan untuk jasa itu anak-anak kita menimbunnya dengan uang.

Dalam sesi obrolan dengan anak-anak didik, istri saya mendapati bahwa mereka tidak mengerti bagaimana alurnya sehingga subscribe dan jempol mereka bisa menjadi uang buat Atta. Saat dijelaskan, merekapun mulai berpikir, mulai bisa menangkap ketidakadilan di hadapannya. Orang tuanya banting tulang untuk membelikan pulsa mereka, lalu mereka habiskan untuk menonton channel Atta; sambil tidak mendapat manfaat apa-apa selain mengikuti tren, hanya untuk bisa nyambung dengan apa yang dibicarakan teman-temannya, hanya untuk menjadi pengikut. Sambil kehilangan waktu untuk belajar.

Tiap tipe konten Atta dibahas dalam obrolan itu. Tentang prank, istri saya menjelaskan bahwa itu bentuk bullying; hal yang sedang diperangi di lingkungan sekolah di seluruh dunia. Tentang pamer kekayaan, digalinya aspirasi anak-anak didik; kalau teman pamer kekayaan, bagaimana perasaan mereka? Ternyata tidak senang. Lalu mengapa senang saat dipameri orang lain lewat layar internet?

Pamer kekayaan adalah konsep Vanity. Ini konsep yang sukar diterjemahkan dalam bahasa kita; sebab dalam budaya kita belum ada karsa untuk mengatai fenomena itu. Terjemahan yang biasa dipakai untuk vanity adalah “kefanaan”. Namun ini jauh dari akurat. Yang paling dekat adalah “pamer kekayaan”, tapi inipun baru sebagian.
Kata dasar dari Vanity adalah “vain”, artinya kosong, hampa, sia-sia. Maka vanity adalah sikap kesia-siaan, kekosongan, sikap mementingkan kulit tanpa peduli isi. Pencitraan adalah tindakannya, vanity adalah sifatnya.
Ironis, ini karakter paling mendasar dari bangsa kita, namun kita tidak punya nama untuknya.

Sesi obrolan itu diakhiri dengan langkah konkret, yang saya dukung lahir-batin. Ia minta anak-anaknya unsubscribe channel Atta. Kalau bisa jangan tonton lagi. Kalau masih terasa berat, tonton saja, tapi jangan subscribe. Habis nonton, jangan lupa unlike. Jempol turun.
Atta boleh kaya dari mana saja, tapi jangan dari anak-anak kita.

Istri saya, seorang wali kelas dan guru Bahasa Inggris, mengajak anak didiknya menyelami nalar mereka sendiri, perasaan mereka sendiri; merangsang kepekaan sosial, lalu membimbing mereka mengambil tindakan nyata.

Ini solusi. Inilah pendidikan karakter. Guru-guru se-Indonesia perlu mengambil langkah remedial yang dicontohkan di atas.
Ini langkah awal. Masih panjang daftar influencer di platform vlog yang setipe dengan Atta, yang harus menjadi target selanjutnya. Mereka adalah antitesis Pendidikan Karakter. Penghambat, penggagal, hama; bagi Pendidikan Karakter.

Hukum tidak bisa melarang orang menjual kebodohan. Caveat emptor : Salah beli, salah sendiri.

Satu-satunya yang mampu memberantas hama ini, hanya sekolah.

Media Sosial dan Etos Berpolemik

Oleh : Silvester Joni

Dokpri

Tak ada pretensi untuk menjadikan tulisan ini sebagai referensi dalam membaca polemik di media sosial. Apa yang tersaji di sini, hanya sekadar sebuah perspektif yang terbatas tentang bagaimana seharusnya kita berdebat di facebook. Tilikan ini sangat terbuka untuk digunting oleh siapa saja dari dari latar belakang ilmu apa saja.

Media sosial dalam pelbagai kanal merupakan jagat tak berhingga dan tak bertuan. Siapa saja boleh ‘nimbrung’ dalam ruang itu untuk mempercakapkan isu apa saja. Tidak heran jika kita menemukan tulisan dari seorang remaja bersanding dengan artikel opini seorang profesor. Mereka yang mungkin baru belajar menulis akan dengan bebas menanggapi tulisan seorang profesor.

Garis demarkasi antara analisis seorang ‘pakar’ dengan anak sekolah menengah relatif kabur sebab semuanya ‘melayang’ secara sejajar dalam forum itu. Mengapa? Facebook bukan ‘domain eksklusif’ para ilmuwan dan akademisi untuk mempresentasikan kajian saintifik mereka. Kita jarang membaca sebuah telaah akademik dalam bidang hukum misalnya, yang mengikuti logika dan metodologi ilmiah yang ketat. Yang disodorkan dalam ruang itu adalah ‘fragmen opini lepas’ yang tentu saja sangat terbuka untuk diperdebatkan. Teori dan konsepsi ilmu tertentu dicomot secara eklektik untuk sekadar terlihat gagah.

Kendati demikian, perdebatan dalam ranah digital akan jauh lebih elegan dan berwibawa ketika kita tidak menegasikan semacam etika diskursus yang baik. Tidak salah juga jika kita menyadap ‘nafas keilmiahan’ dalam perbincangan tersebut. Dunia pemikiran akan berkembang jika dan hanya jika kita tidak terjebak dalam absolutisme atau dogmatisme yang akut. Mentalitas ilmiah sebetulnya ‘pemali’ untuk mengkultuskan pemikiran sendiri. Kita menyajikan pemikiran yang bersifat diskursif, bukan kumpulan dogma yang mesti diterima oleh siapa saja.

Perspektif seseorang entah diadaptasi dari doktrin keilmuan tertentu, tentu bersifat terbatas. Klaim bahwa ‘tafsiran kita lebih baik dari orang lain’ tentu saja bisa dibaca sebagai ekspresi arogansi intelektual.

Karena itu, dalam membangun perdebatan di ruang publik, kita perlu ‘menghargai perpektif’ partner debat. Bagaimanapun juga, persepsi individual itu mesti dikonfrontir dengan gagasan orang lain. Kebenaran yang kita sajikan tidak bersifat absolut, tetapi bersifat dialogis dan terbuka untuk diperdebatkan. Berdebat tentang Perkara Hasil Pemilihan dalam kontestasi Pilkada Mabar pada forum Mahkamah Konstitusi (MK) misalnya, kita tidak bisa ‘memaksa tafsiran keilmuan kita’ untuk dijadikan panduan dalam memastikan siapa penang dalam sengketa itu. Apalagi jika penafsiran kita lebih banyak dipengarui oleh ‘posisi politik’ dan selera preferensi individual, tentu kita tak punya basis yang cukup kuat untuk memonopoli kebenaran.

Selain itu, dalam bertengkar di media, semestinya kita tetap mengedapankan ‘rasionalitas’ yang jernih. Argumentasi yang dibangun mesti bisa dipertanggungjawabkan di hadapan nalar. Unsur emosi (perasaan) sedapat mungkin disisihkan.

Media massa dan media sosial (Medsos) dalam perspektif kajian sosial dan budaya merupakan salah satu instrumen public-space, ruang terselenggaranya aktivitas diskursif; pendekatan penalaran yang produktif dan berkualitas.

Isu-isu krusial yang bersentuhan langsung dengan ‘dimensi kebaikan publik’, diperbincangkan secara elegan dan rasional tanpa adanya represi, restriksi, intimidasi, dan manipulasi dari pribadi atau kelompok otoritatif tertentu yang berusaha menguasai ruang publik.

Secara ideal, ruang publik adalah arena diskursif, tempat di mana publik mempertimbangkan dan memperdebatkan berbagai kebijakan yang didesain dan dieksekusi oleh pemerintah. Oleh sebab itu, media sosial sebagai satu model ruang publik kontemporer itu bisa menjadi ‘penghubung antara ruang privat (keluarga) dan ruang otoritas publik (pemerintahan). Ruang itu menjadi medan ‘perumusan dan pengontruksian opini publik’ yang bisa mempengaruhi proses pengambilan dan pelaksanaan kebijakan politik.

Sebagai forum diskursus, maka dalam ruang itu, kita akan berhadapan dengan ‘pluralitas gagasan’. Setiap individu mempunyai posisi yang egaliter dalam mengungkapkan opini yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Perbedaan konsep, ide, minat, dan gaya berkomunikasi, menjadi panorama yang dominan ketika kita ‘berpartisipasi’ dalam sebuah forum diskusi di media sosial. Benturan pendapat itu kerap bersifat radikal dan ‘menghebohkan’ dan tentu saja menstimulasi sebuah ‘polemik’ berseri di berbagai platform media sosial seperti facebook, WhatsApp (WA), instagram, dan lain-lain.

Sebuah pertengkaran (polemik) dinilai bermutu jika masing-masing partisipan diskursus ‘memaksimalkan’ aspek rasionalitas dalam ‘mengupas’ isu tertentu. Sedapat mungkin, kita berdebat tentang ‘substansi opini’ dari rekan diskusi dan bukan terjebak pada arus sentimentalitas dan emosional yang cenderung ‘mengaburkan isi perdebatan’.

Dengan formulasi yang lebih simpel, kita mesti ‘berpolemik’ dengan otak, bukan dengan insting animalitas. Hindari argumentasi yang bersifat ‘menyerang karakter pribadi’ (argumentum ad personam) dan argumentasi yang mengkredit otoritas tertentu (argumentum ad autoritatem). Mengobok-obok wilayah privasi dan profesi orang, selain tidak etis dan produktif, juga mencerminkan kekerdilan berpikir dan kedangkalan referensi otak.

Umumnya ketika kapasitas kognitif seseorang tak sanggup meladeni substansi argumen orang, maka kita tergoda orang yang beragumen dan profesinya. Ini namanya sesat pikir jenis ad-hominem. Ini jurus andalan dari para politisi busuk atau provokator atau agitator massa. Menyerang argumen memang lebih beresiko, karena argumen bisa dibuktikan salah dan benar. Kalau benar, maka kita akan terbukti cerdas. Kalau salah, maka kita akan terbukti bodoh. Nah, peluang untuk terbukti bodoh itu sama besarnya dengan terbukti cerdas, serta akan semakin besar kalau kita tahu bahwa kita memang bodoh. Tak semua orang mau terbukti sebagai orang bodoh sehingga harus belajar lagi dengan sungguh-sungguh. Maka, sesat pikir ad-hominem pun menjadi solusi ilusifnya agar seolah terlihat cerdas.

Perdebatan yang ‘belopotan’ dengan unsur emosi, amarah, dan dengki, di satu sisi, dianggap sebagai ‘bumbu penyedap’ pertengkaran intelektual, tetapi ‘menghilangkan’ esensi debat pada sisi yang lain.

Saya menangkap kesan, polemik yang bergulir di grup facebook “Jurnal Mabar” seputar analisis prediktif sengketa hukum di MK, cenderung mengeksploitasi sisi emosional, ketimbang rasionalitas. Efeknya adalah publik pembaca ‘tidak menangkap substansi polemik’ seputar signifikansi dan urgensitas revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam panggung sosial-politik yang majemuk. Kita lebih condong ‘memamerkan tafsiran atau persepsi individual’ untuk dikonsumsi oleh publik pembaca, sementara pada sisi yang lain kita cenderung alergi dengan kritik.

Saya berpikir, sebagai warga komunitas ilmiah, kita coba memperlihatkan tradisi dialektika yang berbobot di ruang ini. Kita mesti fokus pada gagasan yang berpijak pada penalaran yang logis dan tidak melompat ke isu yang bersifat emosional-personal.

Berpolemiklah dengan akal sehat. Dengan itu, kita tetap menghargai ‘idealisme’ pembentukan grup ini sebagai wadah latihan menuangkan gagasan secara kreatif dan forum pertukaran ide yang berkualitas.

Tulisan ini diambil Dari Sini

KPU Mabar Melanggar Kode Etik?

Sreenshoot Postingan KPU Mabar di Facebook

Apakah Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Manggarai Barat melanggar kode Etik?.

Untuk menjawab hal itu, mari kita menunggu jawaban dari Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) setelah pengaduan dari salah seorang warga Manggarai Barat mendapat jawaban.

Berikut ini salah satu draf pengaduan salah seorang warga Manggarai Barat yang tidak ingin disebutkan namanya yang ditujukan kepada Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Pengaduan ini menurutnya akan disampaikan via email Pengaduan DKPP.

***

Selamat Pagi Bpk/Ibu Admin Kanal Pengaduan DKPP.

Salam Hormat,
Sebelumnya saya ingin perkenalkan diri saya,

Nama : (disembunyikan)

Jenis Kelamin : (Disembunyikan)

Pekerjaan : Wiraswasta.

Alamat : (Disembunyikan)

HP/WA : (+62***********)

Dengan ini saya mau mengadu kepada DKPP terkait berita yang dirilis oleh Humas Media Center KPU Kabupaten Manggarai Barat pada Rabu, 3/2/2021. Dimana pada bagian publikasi ini pengadu menduga adanya pelanggaran kode Etik karena perkara masih berada di meja persidangan dan belum ada Keputusan Tetap dari Majelis Hakim Konstitusi.
Pengadu menilai bahwasanya Humas Media Center KPU Kabupaten Manggarai Barat telah melakukan sesuatu yang bukan kapasitasnya dan belum waktunya.

Untuk memperkuat pengaduan ini, pengadu melampirkan tangkapan layar postingan KPU Manggarai Barat di Facebook dan juga link berita pada website resmi KPU Kabupaten Manggarai Barat ( Baca DI SINI )
Pengadu juga mengutip beberapa Protes Masyarakat Manggarai Barat di Facebook, yaitu sbb:

Pertama,

Oleh : Johanes Jemarut
( Postingan Facebook : DI SINI )

KPU(D) ITU LEMBAGA APA?
(Menyoal Bahasa dan pemanfaatan Media)

Saya tersentak membaca ini. Sungguh! Kok ada publikasi receh seperti ini di web resmi? Ada beberapa “pelacuran” yang terendus dari publikasi media KPUD Mabar ini, al:

  1. Prematur

Yang kami tahu bahwa sidang sengketa pilkada Mabar itu sedang berlangsung, belum ada keputusan tetap dan mengikat dari MK tentang sengketa tersebut. Pernyataan “tanpa alat bukti” bertentangan dengan fakta bahwa gugatan paket MISI masih diterima oleh MK. Berikut, frasa “Tanpa Alat Bukti” adalah pelecehan terhadap hukum dan penggiat hukum. Kenapa tidak memakai istilah “minim Alat bukti? “. Ada semacam tendensi pelecehan terhadap pihak pengacara paket MISI. Seolah-olah pengacara itu ” Bodoh dan dungu” Dalam berperkara.

  1. Melampaui Wewenang

Wewenang untuk mengatakan “tanpa alat bukti” Adalah milik Mahkamah Konstitusi sebagai pemeriksa kelengkapan, bukan milik KPUD. KPUD cukup menyediakan counter attact atas bukti pemohon. Cukup.

  1. Membuka Aib Sendiri

Media suatu instansi itu cukup mempublikasikan dirinya sendiri, apalagi instansi milik publik tanpa membawa-bawa pihak lain. Dalam berita ini, KPUD terkesan ceroboh dengan mengatakan bahwa tuduhan paket MISI terhadap pihak terkait (Edi-Weng) tidak ada alat bukti. Yang dilaporkan dalam sengketa ini adalah KPUD Mabar, EDI-WENG hanya pihak terkait. Tak etis KPUD menyebut nama mereka dalam kasus ini. Hal ini akan menimbulkan bias di masyarakat.

  1. Penggunaan Media Publikasi Yang Kurang Profesional.

Media KPUD cukup terbatas pada publikasi hal-hal yang berkaitan dengan kinerja, jadwal, aturan main dan keputusan-keputusan berharga. Kalau mau beropini ria ya, manfaatkan teman-teman Wartawan atau menulis di halaman Facebook KPUD Mabar saja, jangan di web resmi.

Bagiku begitu.
Karena itu, dengan sangat hormat kami mohon untuk menarik kembali publikasi yang tidak penting ini. Dengan begitu kami percaya bahwa kita semua memiliki niat baik dalam mengelola negara ini.
Salam hormat.
Tulis Johanes Jemarut di Facebook.

Kedua,

Oleh : Piter Ruman
( Postingan Facebook : DI SINI )

MEDIA CENTER KPUD MABAR ITU MILIK KONTESTAN KAH? ATAU KONTESTAN JUGA?

Tentu ulasan yang tendensius dalam berita di Media Center KPUD ini sudah kita dengar bersama sama dlm proses sidang virtual. Yang namanya termohon berhak menyampaikan sanggahan atas gugatan. Menjadi soal jika sebuah perangkat lembaga publik dlm hal ini Media Center membangun opini publik dan terjebak menjadi partisan dalam sebuah perkara. Yang digugat itu bukan KPUD sebagai sebuah lembaga…tetapi atas adanya sebuah keputusan/ketetapan yang dilakukan oleh komisionernya. Lembaga KPUD itu bukan milik komisioner atau orang-orang yang sekarang bekerja disana…tapi itu milik rakyat, yang oleh karenanya dia tidak boleh digunakan sebagai alat untuk membangun opini YANG TIDAK BERIMBANG. Atau memang ini sebagai pertanda bahwa KPUD tidak berimbang?…Media Center itu lebih berfungsi sebagai media edukasi dan informasi terkait kegiatan pemilu yang wajib disampaikan ke masyarakat. Bukan sebagai media untuk membangun persepsi publik terkait sebuah perkara yang sedang terjadi.
Ini sebuah pelanggaran code of conduct…. dan dengan ini saya menjadi lebih paham……ohhhh ternyata…..

Tulis Piter Ruman di Facebook.

Demikian untuk maklum, dan mohon untuk diperhatikan.
Terima Kasih, salam Hormat.

***

Demikian draf pengaduan yang dibuat oleh salah warga Manggarai Barat yang rencananya akan dikirim pada tanggal 8 Februari 2021 Via Email.

Ketika ditanya, apakah tidak cacat prosedur dalam hal menyampaikan pengaduan tersebut, warga tersebut menjawab dengan singkat; “Itu tergantung pihak DKPP”, jawabnya sambil lalu.

Screenshoot Halaman Opini Website Resmi KPUD Mabar

Untuk diketahui, KPU Kabupaten Manggarai Barat pada tanggal 3/2/2021 membagikan link opini pada halaman Facebooknya yang kemudian dianggap melanggar oleh sebagian pihak.

Begini Cara Klaim Token Kompensasi Dari PLN

Pemerintah Melalui BUMN, Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah memberikan bantuan berupa kompensasi token Listrik kepada pelanggan PLN bersubsidi, yaitu meteran berkekuatan 450 VA dan 900 VA.

Namun sebagian besar pelanggan tidak mengetahui, atau tidak begitu paham bagaimana mengambil token kompensasi tersebut.

Berikut tahap-tahap pengambilan token kompensasi tersebut.

Pertama, buka link milik PLN yaitu (www.pln.co.id), setelah itu akan tampil jendela seperti gambar berikut.

Tangkapan layar screnshut web PLN.

Kedua, masukan nomor ID Pelanggan atau nomor meter Pelanggan.

Setelah memasukkan nomor meter Pelanggan, maka akan muncul jendela seperti pada gambar berikut.

Model tampilan apabila memenuhi kriteria.
Yaitu, meteran 450 VA dan 900 VA.

Namun, ada beberapa pelanggan yang tidak berhasil mengambil token kompensasi tersebut.

Apabila kita telah memasukan nomor meteran, ada pemberitahuan lain dari jendela tersebut, dan kemungkinan pelanggan bersangkutan tidak memenuhi kriteria penerima kompensasi tersebut.

Berikut model tampilan pada layar pelanggan PLN yang tidak memenuhi kriteria.

Model tampilan untuk pelanggan yang tidak memenuhi kriteria

Demikian tips untuk mengambil token kompensasi dari PLN.

Terima kasih, semoga membantu.

Rindu Menyulam Senyum


Puisi: Agust G Thuru

Rindu menyulam senyum denganmu
Di setiap tikungan perjalanan
Saat berpapasan kau melambaikan tangan
Sambil berujar salam kemanusiaan
Dan angin menghembuskan bulir-bulir damai
Kita pun terikat erat menjadi satu napas

Di setiap tapak jalan ziarah
Ada tulisan ragam bahasa
Mungkin tidak saling memahami
Tapi senyum dan tatapan mata yang teduh
Adalah bahasa cinta
Yang tidak sulit untuk difahami

Rindu menyulam persaudaraan denganmu
Di setiap ayunan langkah pesiarahan
Saat berpapasan aku melantun salam damai
Dan engkau menyambut dengan rasamu
Kita semakin diikat tali cinta
Di satu negeri milik kita bersama

Rindu menyulam salam persaudaraan
Walaupun kita tetap tak sama
Saat kita punya waktu berpapasan
Biar ada cinta yang terus mengalir
Berbagi rahmat dan belaskasih
Agar persaudaraan kita menjadi kekal

Yah, aku rindu menyulam persaudaraan
Di atas tanah warisan leluhur
Tanah air kita bersama
Sebab darah ibu dari liang rahimnya
Senantiasa mengalir dan menyuburkan
Dan seharusnya kita tidak mengkhianatinya

Denpasar , 28 Februari 2020

Jejak Digital Itu Ganas!


Segala sesuatu yang kita share di Media sosial, mulai dari Facebook, Tweeter, Instagram, Youtube, dlsb. sudah barang tentu menjadi milik publik. Mulai dari konten gambar, vidio, atau tulisan yang kita upload di media sosial otomatis menjadi milik pengguna media sosial.

Anda mungkin hendak mengedit beberapa konten yang dinilai menyinggung orang lain setelah terlanjur orang lihat dan baca. Tetapi bisa saja orang sudah terlanjur tersinggung setelah membaca konten yang anda muat. Itu masalah bagi Anda, Anda segera mengoreksinya namun fitur-fitur digital masih lebih hebat dari lelocon Anda. Mau dihapus foto atau vidio,mau diedit tulisan yg sdh kita upload di Medsos FB,jejak digital sulit kita bantah keakuratannya,dan sulit mngambilnya kmbali.Bagaimana tdk?.Upload foto, org langsung lihat,unduh kalau mau. Upload vidio,org langsung nonton,unduh juga kalau mau. Bgitu jga halnya dgn tulisan (status atau komentar di FB),dgn manfaatkan bebrpa tombol saja,hasil tangkapan layar scrensut status dan kmntar kita langsung tersimpan di Galeri perangkat lunak ponsel pngguna FB. Kita hanya bisa mlarang jejak2 digital itu bkrja dgn manfaatkan bebrpa fitur setingan prifasi yg sdh disediakan,yg kita klola sndiri diakun kita. Misalnya; ada opsi “siapa saja yg boleh mlihat materi yg kita upload”,dan masih banyak opsi lainnya. Kita bisa klola akun kita dgn rapi. Jgn lupa jadikan akun kita sbg rumah yg nyaman, dan jadikan objek wisata yg menyenangkan utk dikunjungi (asyeekk). Baik, kembali lagi ke jadul, eh judul; “Revolusi Digital yg Semakin Ganas”, sganas inikah Revolusi Digital?. Apa itu Revolusi Digital?,Komodo kah?,ganasnya seperti komodo sih,mencincang rusa sampai habis dagingnya. Bgitupun Revolusi Digital yg mlahirkan anak bernama Jejak Digital,banyak org mnjadi korban keganasannya, sampai orang menumbangkan akun FBnya (atau “rumah”nya sendiri, sya istilahkan tdi). Mnurut wikipedia;Revolusi Digital adalah prubahn dri tknologi mekanik dan
elektronik analog ke teknologi digital yang telah terjadi sejak tahun 1980 dan berlanjut sampai hari ini. Revolusi digital ini telah mengubah cara pandang seseorang dlm menjalani khidupn yg sangat canggih saat ini. Sbuah teknologi yg membuat prubahn besar kpd sluruh dunia,dari mulai membantu mempermudah segala urusan sampai membuat masalah krna tdk bisa mnggunakn fasilitas digital yang semakin canggih ini dengan baik dan benar.
Ngomong2,sbenarnya masih ada cara utk mnghilangkn Jejak Digital, tapi ini susah dilakukan,dan sangatlah radikal. Misalnya:(1)suruh pendiri FB untuk hapus FB;(2)Suruh pabrik ponsel utk stop produksi ponsel pintar;(3)suruh pngguna ponsel pintar utk bikin hancur Ponselnya;(4)suruh para ahli IT utk stop brpikir; dan terakhir skaligus sbgai pnutup tulisan ini, dan tampaknya dpt mnyelesaikn masalah:
(5)Suruh diri sendiri utk bermediasosiallah dgn baik,benar,dan pintar.

GawasNai.

KOLUSI POLITISI BUSUK DAN WARTAWAN BUSUK (Sebuah Awasan di Musim Kontestasi Pilkada)

Oleh : Silvester Joni

Kuat dugaan bahwa pilkada merupakan ‘masa panen rejeki dadakan’ bagi media dan wartawan. Praktik kolusi (simbiosis mutalisme) antara awak pers dengan politisi (kandidat bupati) kemungkinan akan diperagakan secara kreatif dan agresif.

Politisi tahu persis, selain uang, publikasi maksimum merupakan prasyarat penting memenangi kontestasi pilkada. Mereka memerlukan media untuk ‘mempromosikan aneka produk politik’ dan mengonstruksi citra diri yang positif. Para kandidat itu tentu sangat berhasrat mendapatkan semacam efek elektoral dari publikasi yang massif dan intensif tentang dirinya.

Karena itu, mereka merekrut wartawan untuk bekerja sebagai ‘tim sukses kampanyenya’. Para jurnalis itu bisa bertindak sebagai konsultan media, humas, penulis teks kampanye (pidato politik), dan ‘jurubicara’ dari sang politisi pujaan mereka. Selain itu, kita akan menjumpai fenomen media dan wartawan yang menawarkan jasa meliput atau menulis berita sesuai dengan permintaan (reporting by request). Singkatnya, idealisme (pena) jurnalis dengan mudah ‘dibeli’ oleh para petarung politik di setiap musim pilkada.

Praktik jurnalisme yang bersifat partisan dan oportunis semacam itu, tentu mencederai ‘roh idealisme pers’ sebagai penyebar dan penyingkap kebenaran kepada publik. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku ‘The Elements of Journalism (2001) menyatakan bahwa tanggung jawab pertama jurnalisme adalah menyampaikan ‘kebenaran’. Para awak media mesti loyal dan dedikatif pada pemenuhan ‘hak publik’ dalam mendapatkan informasi yang benar.

Di tangan jurnalis yang ‘moralitasnya rendah’, kebebasan pers dijadikan arena ‘menjual berita’ sesuai selera pasar (baca: interes politik dari politisi tertentu). Para politisi dengan mudah mengatur dan mendikte ‘kemasan berita’ dengan mengabaikan kode etik substansi penulisan jurnalistik. Semakin besar ‘honor’ yang diberikan oleh kandidat, tentu semakin lihai sang jurnalis memanipulasi fakta dan kebenaran dalam konten pemberitaan yang berkaitan dengan ‘kepentingan politik’ dari pedamba jabatan itu.

Tegasnya, wartawan kerap ‘tergoda’ menerima rayuan politisi untuk ‘memperdagangkan berita sesuai selera politisi’ atau berusaha ‘membujuk politisi menjadi ‘bagian inti’ dalam barisan para tim sukses. Jika kondisi ini dibiarkan, maka sebetulnya baik politisi maupun wartawan semacam itu, layak digelari sebagai ‘pribadi busuk’.

Kita berharap Pilkada Mabar tidak ‘terkontaminasi’ dengan pola kerja kolutif dari politisi dan wartawan busuk seperti itu. Publik mesti kritis dan selektif dalam ‘mencerna’ sebuah betita tentang kandidat tertentu oleh media atau jurnalis tertentu. Kita mesti menggunakan ‘pisau hermeneutika kecurigaan’ terhadap sebuah berita politik yang tendensius dan kurang objektif dari para pekerja media lokal kita.

IKAREMORA : Kawula Muda Harapan

IKAREMORA merupakan singkatan dari Ikatan Reba Molah Ranggu. IKAREMORA adalah sebuah paguyuban, wadah bagi muda-mudi di Kampung Ranggu untuk dapat berkontribusi bagi Desa Ranggu dengan menceburkan diri ke dalam berbagai persoalan yang terjadi di desa. Di mana kawula muda ini menjadi agent of solution bagi segala persoalan yang terjadi di Desa Ranggu.

Beberapa waktu lalu, Selasa (31/12/2019) dalam momentum Natal dan Tahun Baru, IKAREMORA melaksanakan kegiatan Natal dan Tahun Baru Bersama dengan tema “Kebersamaan dalam Persaudaraan”. Tema ini sejatinya ingin menegaskan bahwa paguyuban ini merupakan sebuah paguyuban yang terbentuk atas sebuah ikatan persaudaraan. Yang diyakini bahwa dengan rasa persaudaraan yang dibangun bersama-sama di antara kaum muda-mudi akan menghasilkan sebuah kekuatan untuk membawa perubahan.

Berbagai rentetan kegitan yang dilaksanakan oleh paguyuban ini dalam kegiatan Natal dan Tahun Baru Bersama itu antara lain kegiatan sosial berupa kegiatan bersih lingkungan. Pesan dan harapan yang dibawa oleh kaum muda melalui kegiatan bersih lingkungan ini bagi masyarakat adalah betapa pentingnya saat ini, terutama di musim hujan kebersihan lingkungan. Lingkungan yang bersih saat musim hujan akan meminimalkan dampak buruk bagi kesehatan.

Selain kegiatan bakti sosial, kegiatan lain yang dilaksanakan oleh Paguyuban ini adalah kegiatan pentas seni yang dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengikat dan memperkuat ikatan persaudaraan antar anggota masyarakat Dusun Ranggu.

Dalam momentum tersebut, hadir juga Kepala Desa Ranggu, Bapak Yohanes Bundar yang berkesampatan menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, Bapak Yohanes Bundar menyampaikan dukungan dan kebanggaan akan terlaksananya kegiatan tersebut. “saya merasa bangga dan mendukung anak muda-mudi ini yang telah melaksanakan kegiatan ini dengan sukses. Ini menunjukan bahwa kaum muda memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menciptakan dan melaksanakan sebuah kegiatan untuk kepentingan pembangunan Desa”.

Kepala Desa mengakhiri sambutannya juga menyematkan kepada kaum muda-mudi ini harapan akan tetap adanya ikatan muda-mudi ini serta mampu melahirkan berbagai gebrakan-gebrakan baru dalam bentuk kegiatan-kegiatan lanjutan. “Semoga wadah ini tetap ada setiap saat untuk membantu pemerintah Desa melaksanakan segala visi misi. Banyak kegiatan-kegiatan ke depan yang saya harapkan partisipasi dari kaum muda-mudi ini. Serta semoga ada kegiatan-kegitan lain yang dilaksanakan oleh kalian muda-mudi agar Desa kita ini mengalami perubahan dan perkembangan. Saya sangat berharap akan hal itu”.

Hal serupa juga disampaikan oleh ketua panitia penyelenggara acara Natal dan Tahun Baru Bersama IKAREMORA, Ari Bero dalam sambutannya menyampaikan bahwa kaum muda-mudi memiliki power untuk membawa perubahan bagi Desa. “Kita kaum muda-mudi memiliki power dalam rangka membawa perubahan bagi Desa. Untuk itu, semoga hal itu bisa kita dalami dan kita tuangkan dalam aksi-aksi nyata kita kedepan”.

Menutup sambutannya, Ari Bero menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh masyarakat Desa Ranggu umumnya dan masyarakat kampung Ranggu khususnya atas segala dukungan yang diberikan kepada IKAREMORA. “Kegiatan ini tentunya tidak akan terlaksana tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini sekaligus menutup sambutan, saya menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya bagi seluruh lapisan masyarakat, yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang telah mendukung dan membantu kami menyukseskan segala kegiatan kami kawula muda”, tutup Ari Bero. (RN)

OLEE NANA!!!

Pengalaman Ari Bero

Saya teringat akan suatu peristiwa pada tahun 2016. Waktu itu saya ke Labuan Bajo masih dengan tujuan mengurus nasib (melamar pekerjaan) sebagai Guru di salah satu sekolah di Ibu Kota. Usainya saya dapat jawaban yang sama seperti sebelumnya yaitu “tunggu saja”. Saya waktu itu mulai cape, keadaan “saku” yang sudah sangat kritis hampir melemahkan akal saya. Sisa uang didompetku hanya Rp 27.000 pas. Sementara saya masih di Labuan Bajo. Tanpa berpikir panjang lagi Rp 25.000 saya belikan minuman untuk si Kador Supra X kenangan dari Kota Daeng yang selalu setia bersama saya. Sisa uang setelah itu berapa?, Rp 2.000 (Jangan tanya nomor rekening). Dengan Rp 2.000 saya harus balik ke Ranggu. Dalam hati (ini darurat, saya tidak bisa lanjutkan perjalanan). Dalam situasi penuh dengan kepanikan itu saya mencoba menenangkan diri sembari menelfon saudari saya yang bekerja di Terang (arah Utara Manggarai Barat). Saya ceritakan perjalanan saya hari itu dan tidak lupa memberi bocoran tentang keadaan dompet saya pada saudari saya. Akhirnya Dia beri solusi, bahwa saya mesti lewat Terang, kebetulan Dia punya uang Rp 150.000 untuk bisa talangi kebutuhan logistik saya untuk misi berikutnya. Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung menuju Terang. Dalam perjalanan HP saya berdering, ada telfon masuk dari saudari saya tadi, katanya; “Nara, ite sebentar tidak bisa lewat dengan modal Rp 2.000, karna ada sekelompok orang sebentar di Kampung Cangkang tidak mengijinkan lewat kalau tidak bayar 5.000/10.000. Saya tidak begitu merespon hal itu, saya lanjutkan perjalanan, yang ada diotak saya adalah Rp 150.000. Singkat cerita, sampailah saya ditempat yang saudari saya ceritakan tadi. Pada jarak +- 50 meter dari tempat itu saya parkirkan si Kador Supra X. Saya ambil HP lalu foto orang-orang yang ada di situ (sambil bertanya-tanya bak seorang wartawan 😅😅😅). Saya foto juga keadaan di sekitar itu, termasuk jalan yang rusak parah itu. Perilaku yang tidak direncanakan itu ternyata menyelamatkan saya. Bagi orang yang pesikisnya tidak kuat, bisa pipis dicelana. Bagaimana tidak, orang-orang itu masing-masing memegang parang yang panjang. Dalam benak saya, saya tidak boleh coba melawan. Pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan pada mereka sebenarnya tidak begitu penting untuk saya, apalagi memerlukan jawaban dari mereka. Saya “oh oh” saja, saya hanya perlu bebas dari tekanan pada saat itu. Setelah melakukan perbuatan aneh itu, saya balik ke si Kador Supra X. Saya amati jalur yang akan saya lewati masih dipagari dengan bambu. Saya mencoba lewat, saya bunyikan klakson (tiiiiitt), mereka lalu membuka pagar itu dengan sangat hati-hati, saya layangkan senyum, dan senyumku dibalas. Setelah lewat dari zona rawan itu, saya bunyikan lagi klakson pertanda pamit dari mereka. Hhhhhh, Saya sudah lewat, Rp 2.000 selamat. Singkat cerita, Sampailah saya di Terang. Saya ceritakan pada keluarga di Terang tentang semua kejadian itu, mereka tertawa sampai ada yang keceplosan mengeluarkan kentut. Mereka katakan bahwa saya sangat beruntung bisa lewat tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Perjalanan hari itu selesai, dompet saya kembali terisi.

Saya Bersyukur dan Berterima Kasih Kepada Pencipta.

Catatan:

Mohon maaf apabila Pembaca kesulitan melihat korelasi antara judul dengan isi cerita ini. Karena memang tidak ada korelasinya.

[1] Ole, adalah bahasa Manggarai yang berarti “Aduh”. [2]Nana, juga bahasa Manggarai yang berarti Manusia yang berjenis kelamin laki-laki. Ole apabila dipadukan dengan Nana, dapat berarti “Aduh Nana”, sebuah ekspresi kekagetan terhadap perilaku dari Subjek Nana. Kira-kira begitu. 😊🙏.

Sedangkan Si [3]Kador, adalah julukan untuk motor Supra X yang saya kendarai pada saat itu. Kador juga merupakan bahasa Manggarai yang berarti Nakal, atau bandel. Penulis anggap cocok apabila motor lawas itu dijuluki Si Kador, berkat kinerjanya melintasi jalur rawan “Labuan Bajo – Terang” pada saat itu.

Kalau ada kesalahan mohon dimaklumi, karena tulisan ini bukan untuk menyempurnakan tata bahasa Indonesia.

Bagi para pembaca yang pernah mengalami pengalaman serupa, tentu saja ngakak setelah membaca ini. Jalan umum yang rusak di Kampung-kampung akan selalu menjadi ruang bagi preman-preman kampung untuk memeras pengendara yang hendak lewat. Penulis sudah beberapa kali mengalaminya.

Untukmu Yang Kusebut Ayah

Oleh : Agnesti Alrianti

Untuk Ayah yang selalu membandingkan anaknya dengan anak orang lain  

 Ayah ,,
Engkau tau, bahwa aku sangat mencintaimu
Sangat amat mencintaimu ,,
Bahkan aku sangat bersyukur bahwa aku
Dilahirkan untuk menjadi anakmu,,
 Aku bangga dengan hal itu
Aku juga bersyukur untuk semua kenyataan
Bahwa engkau membesarkanku dengan kasih
 Bahkan seluruh cintaku pun tak mampu membalasnya ,,
 Engkau tau itu ayah…
  Tapi,,,
Aku selalu bertanya
Mengapa setiap kali aku berbuat salah, engkau selau membandingkan aku dengan anak orang lain?
Bukankah darah yang mengalir dalam tubuhku berasal darimu ? Bukankah aku ada karena dirimu?
 Engkau menyakitiku dengan semua itu,,
Aku selalu bertanya apakah memang betul aku anakmu ? Tidak adakah sedikit pujian untukku ?
Aku selalu mendambakan engkau memujiku, walau hanya sekali,,
  Aku selalu mengejar pujian darimu
Sehingga aku selalu berusaha lebih baik dari anak orang lain yang selalu engkau puji ,,
Berusaha membuktikan bahwa aku lebih baik,,
Ayah aku lelah,, lelah mengejar ini semua,,
 Tidak adakah secuil kasih darimu, untuk menerima kekuranganku ?
Tidakkah engkau sepenuhnya menerimaku ?
Ayah,, Jika aku bisa mengulang kembali waktu,,
Aku akan meminta kepada Tuhan agar memberikan ayah anak yang lebih pintar, agar engkau tidak perlu membandingkannya lagi dengan anak orang lain,, Aku rela, jika bukan aku yang menjadi anakmu, asal ayah bahagia…
Namu ayah,,
Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan menjadi anakmu,, ketahuilah bahwa tidak akan ada AKU, jika bukan engkau ayahnya,,,
Ayah,,,
Engkau mungkin berpikir itu adalah motivasi terbaik,,,
Namun engkau tidak tau bahwa itu membutku terluka,, haruskan jadi orang lain agar mendapat pujian darimu ?
  Terlepas dari itu semua,,
Aku sudah dewasa sekarang
Aku berpikir, , mungkin itu motivasi terbaik darimu
 Namun aku belum mengerti sepenuhnya tujuan darimu, yang selalu membandingkan aku dengan anak orang lain,,
  Semoga suatu saat aku akan mengerti dengan semua ini,,  karena lukaku sulit untuk disembuhkan,,

Untuk semua ayah yang pernah membandingkan anaknya dengan anak orang lain,,, Semoga engkau memiliki waktu untuk membaca ini,, ketahuilah Aku yang kau sebut anak sangat mencintaimu yang ku sebut Ayah

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai